Benarkah Narasi untuk Kepentingan Rakyat yang Disenandungkan Pemimpin, Memang untuk Kepentingan Rakyat?
“Untuk kepentingan rakyat,” terus berkumandang dari bibir sang pemimpin. Sementara rakyat terkagum kagum menyaksikan foto jurnalistik tentang kehebatan negeri sebrang membendung lautan-lautan menjadi kota megah dari surat kabar bekas yang diperolehnya dari bekas bungkusan pedasnya cabe yang dibeli oleh istrinya di pasar tradisional pagi tadi.
“Untuk kepentingan rakyat,” terus bergema dari mulut sang pemimpin.
Rakyat pun terlelap dalam buaian impian dan mimpi setelah seharian bekerja memeras keringat.
“Untuk kepentingan rakyat,” gumam sang pemimpin dengan suara penuh desah dan tanya.
Narasi kerakyatan yang amat heroik berupa kalimat ”untuk kepentingan rakyat” terus disenandungkan pemimpin untuk rakyat, sebagai tanda bahwa pemimpin bekerja untuk kepentingan rakyat semata tanpa embel-embel dan reserve.
Narasi kerakyatan yang amat patriotik berupa diksi “untuk kepentingan rakyat ” yang selalu digemakan pemimpin kepada publik dan rakyat adalah sebuah simbol bagaimana pemimpin dan para pemimpin berjuang hanya untuk kepentingan rakyat dan hanya untuk kepentingan rakyat semata.
Narasi kerakyatan yang amat luar biasa gemanya itu menyimbolkan kepada kita sebagai rakyat bahwa pemimpin berkerja, berjuang dan berpikir keras hanya untuk kepentingan rakyat yang telah mengamanahkannya sebuah mandat sebagai pemimpin yang bekerja untuk rakyat.
Narasi bernada patriotik “untuk kepentingan rakyat” yang seringkali dilontarkan pemimpin dan akrab ditelinga kita sebagai rakyat, membuktikan bahwa pemimpin memang sangat menghormati rakyat yang telah mengeskalasikan martabat hidupnya sebagai pemimpin negeri.
Semoga narasi “untuk kepentingan rakyat” memang betul-betul disuarakan pemimpin negeri dari hati nuraninya yang paling dalam yang tak dapat dibohongi memang untuk kepentingan rakyat.
Semoga narasi ” untuk kepentingan rakyat ” memang betul-betul diaplikasikan pemimpin negeri hanya ” untuk kepentingan rakyat ” semata.
Bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya, koleganya dan kelompoknya. Apalagi untuk pencitraan dirinya yang ingin terus berkuasa tanpa malu hingga Sang Maha Pencipta memanggil. Biarlah rakyat yang menilainya.
Ngomong-ngomong, apakah pemimpin di daerah pembaca berjuang untuk kepentingan rakyat?
