Benarkah Narasi untuk Kepentingan Rakyat yang Disenandungkan Pemimpin, Memang untuk Kepentingan Rakyat?

Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali

“Untuk kepentingan rakyat,” teriak sang pemimpin di atas panggung hiburan sembari joget-joget.

Di bawah panggung hiburan, rakyat terus ngobrol ngalor ngidul sesama mereka sembari tetap setia menunggu penyanyi yang akan tampil mengimitasi goyang ngebor ala artis ibukota.

“Untuk kepentingan rakyat,” ungkap sang pemimpin yang dimuat di koran halaman dalam dan dibaca rakyat yang sedang berbincang sesamanya, kaum jelata di negeri ini tentang bagaimana susahnya mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarga sehari-hari.

“Untuk kepentingan rakyat,” jelas sang pemimpin yang muncul di televisi dua menit dan ditonton rakyat lewat televisi 14″ inch hitam putih yang gambarnya turun naik.

Baca Juga  Tinjauan Konseptual Disiplin Pegawai

“Untuk kepentingan rakyat,” senandung sang pemimpin lewat radio dan didengar rakyat dengan nada suara samar-samar, sambil tiduran di bale-bale sembari memikirkan tentang tanaman padi yang dimakan tikus-tikus.

“Untuk kepentingan rakyat,” ujar sang pemimpin dengan nada gagah berani dan didengar rakyat dengan nada samar-samar sambil memikirkan bagaimana caranya memasarkan hasil panenan yang melimpah ruah untuk bekal kehidupan dan masa depan.

“Untuk kepentingan rakyat,” celoteh sang pemimpin dengan nada penuh keyakinan dan rakyat terus menimbun kolong bekas galian agar lahan pertanian tak terendam air sehingga panen tahun depan berhasil.

“Untuk kepentingan rakyat,” kata sang pemimpin dengan resonansi suara yang penuh semangat. Dan rakyat tetap saja berpikir tentang panen hasil pertaniannya yang harga nya terus melorot dan melorot hingga titik terendah.

Baca Juga  Kejari Bangka Selatan dan Kampanye Melawan Korupsi

“Untuk kepentingan rakyat,” sebut sang pemimpin dan rakyat terus saja berpikir keras bagaimana caranya untuk tetap menatap kehidupan dan menjalani derap langkah kehidupan walaupun harus mengeluarkan keringat yang bercampur dengan darah.

“Untuk kepentingan rakyat,” kumandang sang pemimpin dan rakyat terus saja berpikir dan memikirkan bagaimana besok sang anak istri bisa bisa mengganjal perut walaupun dengan makanan ala kadarnya.

“Untuk kepentingan rakyat,” cerita sang pemimpin dan rakyat terus saja berfikir dan bergulat dengan kerasnya derap kehidupan untuk mengais rejeki biar bisa tetap hidup dan hidup.