Seusai Kita
Mendengar itu segera Kelana membuka ponselnya. Benar saja, namanya terdapat dalam urutan paling atas pemenang OSN Matematika. Harusnya kini ia diselimuti rasa gembira, namun entah kenapa berusaha tersenyum saja rasanya kelu.
“Selamat Kelana, dan kamu harus tepati janji kamu,” ucap Isa dengan tatapan penuh arti.
“Selamat Kelana, dan kamu harus tepati janji kamu,” ucap bu Isa dengan tatapan penuh arti.
***
Bel pulang berbunyi. Para siswa keluar kelas bersamaan. Begitupun dengan Kelana yang bergegas untuk keluar kelas, bertepatan dengan itu ia tak sengaja berpapasan dengan Harsa.
“Har…” segera Kelana urungkan niatnya untuk menyapa Harsa. Setelah ia melihat Harsa berjalan beriringan dengan Gia, teman kelas Harsa yang hari itu juga menyodorkan sebotol air mineral.
Sepulang sekolah Kelana langsung mengirim pesan kepada Harsa untuk bertemu di toko eskrim langganan mereka. Setibanya disana ia sudah mendapati Harsa duduk di salah satu meja. Ternyata Harsa masi sama, selalu datang lebih awal dari jam janjian mereka.
“Kamu udah dari tadi sampainya?” tanya Kelana segera duduk.
“How’s your day Har?” tanya Kelana lagi pada Harsa. Kini Kelana benar-benar menatap kedua pasang netra yang ia rindukan, yang beberapa hari ini terus mencoba menghindar.
“Baik. Oh ya selamat atas hasil yang kamu dapat, pround of you,” balas Harsa tersenyum simpul, “Maaf kalau akhir-akhir ini aku kelihatan menghindar, karena setelah hari itu aku pikir kita benar-benar butuh waktu.”
Mendengar itu sontak membuat mata Kelana berkaca-kaca. Bukankah seharusnya ia yang meminta maaf pada Harsa. Namun setelah apa yang akan ia katakan hari ini, meminta maaf padanya pun rasaya tak berarti.
“Aku mau ngomong sesuatu Har,” ucap Kelana.
“Mau ngomong apa Na? Jangan bikin deg-degan gitu dong, kan kita baru baikan nih ceritanya,” ucap Harsa berusaha mencairkan suasana. Namun tak dapat dipungkiri ia benar-benar kahwatir akan itu.
“Kamu ga capek?” tanya Kelana.
“Capek kenapa?” jawab Harsa. Maniknya tak lepas pada Kelana yang kini Tengah menundukkan wajahnya.
“Sama hubungan kita. Kamu lihat kan akhir-akhir ini komunikasi kita buruk. Aku rasa kita ga punya alasan lagi untuk ngelanjutin hubungan ini, apa lagi kamu tahu bahwa temen-temen kamu juga pada ga suka sama aku. Lagi pula rasanya kita harus fokus ketujuan masing-masing,” ucap Kelana dengan suara tercekat. Ia beranikan menatap wajah Harsa Ketika mendengar suara dengusan dari lelaki itu.
“Bilang kalo kamu lagi ngeprank kan? Ga lucu Na sumpah,” tanya Harsa. Namun tatapan dari Kelana seolah meruntuhkan segalanya. Digenggamnya kedua tangan Kelana, Harsa kembali berucap, “Na, kalau ada masalah dalam suatu hubungan, yang diperbaiki itu komunikasinya bukan malah ganti orangnya.”
“Tapi aku udah bener-bener ga bisa buat lanjutin hubungan kita Har.”
“Ya tapi kenapa? Kenapa di saat aku udah percaya sama kamu, kamu malah seperti ini Kelana?” ucap Harsa. Ia sugguh tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh gadis ini. “Kamu kalau ada masalah cerita Na, saat aku ada masalah kamu selalu nyuruh aku cerita kan? Kita udah sepakat untuk terbuka satu sama lain kan? Please Na, jangan lampiasin masalah itu ke hubungan kita,” lanjut Harsa kelu.
Mendengar itu sontak bulir bening yang coba Kelana tahan sedari tadi jatuh. Ingatannya kembali pada saat seleksi peserta yang akan ikut OSN matematika. Hari itu Kelana sangat percaya diri bahwa namanya yang akan dipilih menjadi kandidat peserta olimpiade.
Namun saat tak sengaja melihat hasil seleksi yang kalah satu poin dengan siswa lain, Kelana benar-benar sedih. Bertepatan dengan itu bu Isa yang melihat Kelana mulai menawarkan perjanjian.
“Ibu bisa bikin kamu untuk mewakili sekolah dalam olimpiade kali ini, asal kamu harus tinggalin Harsa.”
Detik itu juga Kelana menyadari bahwa bu Isa memang belum pernah benar-benar menyetujui hubungannya dengan anaknya, Harsa. Pikirannya kalut, antara mengorbankan impiannya atau orang yang dicintainya. Pengakuan yang selalu ia dambakan, itu harap terbesar Kelana hari itu.
Dan kini, di hadapannya laki-laki yang selalu menjadi alasannya bahagia. Bagi Kelana, Harsa bukan hanya kekasih namun warna dan pengharapaan yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Untuk penyesalan yang akan datang setelah melepas suatu hal yang berharga, Kelana tahu, bahkkan sangat tahu akan itu.
“Maaf,” balas Kelana. Hanya kata itulah yang mampu ia ungkapkan saat ini sambil mengusap air mata yang mengalir.
“Udah benar-benar ga bisa ya Na?” ucap Harsa pasrah. Dilihatnya Kelana mengangguk membenarkan bahwa hubungan mereka benar-benar usai.
***
Kelana tersenyum ketika ingatan itu kembali berputar di benaknya. Hari dimana ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Harsa.
Sejak saat itu tak ada kalimat rindu yang berani terucap di antara mereka, tak ada keluh kesah penghantar malam, tak ada lagi bisikan kata cinta dan maaf, bahkan untuk menyalahkan takdir saja tak mampu. Semua tetap berjalan seperti semestinya. Kelana tetap dengan dunianya, dan Harsa yang tidak lagi berada didalamnya.
“Dan pada akhirnya meski kita mengakhirinya dengan cukup baik, mengapa kita masih seakan berlomba untuk terlihat siapa yang paling baik-baik saja setelahnya?” gumam Kelana. Netranya beralih kepada sebuah postingan yang memperlihatkan Harsa dengan sebuah tropi di tangannya serta senyum yang merekah. “Ah tidak, mungkin sebenarnya hanya aku. Karena katanya, yang paling awal mengucap akhir, tak boleh merasa getir.”
Dan pada akhirnya Kelana akan selalu menyadari bahwa untuk mendapatkan sebuah pengakuan dan keberhasilan, terkadang perlu mengorbankan sesuatu yang berharga.
“Untuk Harsa, seribu maaf ku atas lara yang pernah ku torehkan padamu. Terimakasih atas goresan tentang betapa bahagianya kita yang pernah ada di lembar cerita ini. Ketika aku memutuskan untuk melepasmu demi sebuah kemenangan, di saat itu pula aku sadar bahwa aku sudah kalah. Teruslah berbahagia, karena aku akan selalu bahagia atas bahagiamu juga.” Tulis Kelana pada halaman yang tak akan pernah di jumpai Harsa.
Tamat
