Banyak pantai di Desa Baskara Bakti selama ini telah dijadikan lokasi penambangan, sehingga keindahan alamnya berkurang. Dengan adanya danau yang sudah terbentuk, pemuda melihat peluang untuk menghadirkan wajah baru pariwisata yang berbeda dari daerah lain. Jika dikelola dengan serius dan berkelanjutan, kawasan ini bisa menjadi ikon wisata Desa Baskara Bakti, sekaligus menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap lingkungannya.

Tidak hanya berhenti pada aspek wisata, peserta diskusi juga memikirkan alternatif lain, yakni menjadikan danau pasca tambang sebagai lokasi budidaya perikanan.

Air yang mengisi bekas galian tambang berpotensi dimanfaatkan untuk beternak ikan air tawar. Gagasan ini dinilai realistis, terutama karena kebutuhan pangan akan ikan terus meningkat, sementara sebagian besar kawasan pantai sudah dipenuhi aktivitas tambang yang mengurangi ruang perikanan tradisional.

Dengan adanya budidaya ikan di danau pasca tambang, masyarakat dapat memperoleh tambahan penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Jika dikembangkan secara terencana, bukan tidak mungkin Desa Baskara Bakti bisa menjadi salah satu pusat produksi perikanan air tawar di Bangka Tengah.

Baca Juga  Peluang dan Risiko AI terhadap Masa Depan Dunia Kerja

Opini saya, hasil diskusi ini menunjukkan bahwa pemuda Desa Baskara Bakti memiliki pandangan visioner terhadap kondisi lingkungannya. Mereka mampu melihat masalah sekaligus peluang yang muncul dari lahan pascatambang.

Ide-ide yang mereka hasilkan tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga memperhatikan sisi ekonomi dan sosial masyarakat. Pendekatan seperti ini penting karena masalah lingkungan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan warga.

Reklamasi dan penghijauan memberikan dasar ekologis, wisata membuka peluang ekonomi, sementara perikanan menghadirkan solusi ketahanan pangan. Semua ide tersebut saling melengkapi dan bisa berjalan berdampingan jika ada dukungan dari pemerintah desa, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya.

Lebih jauh, kegiatan brainstorming yang dilakukan pemuda ini juga patut diapresiasi sebagai wujud nyata partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa.

Baca Juga  Dukung Produktivitas Nelayan Pesisir, PT Timah Salurkan Bantuan Alat Tangkap di Desa Baskara Bakti

Selama ini, isu lahan pascatambang sering kali hanya menjadi perhatian kalangan tertentu atau pihak luar desa. Dengan keterlibatan langsung pemuda, ide yang muncul akan lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Mereka adalah generasi penerus yang akan hidup berdampingan dengan lahan-lahan tersebut, sehingga pandangan mereka seharusnya menjadi bahan pertimbangan utama dalam penyusunan kebijakan.

Ke depan, langkah berikutnya adalah bagaimana ide-ide ini dapat ditindaklanjuti secara konkret. Pemerintah desa dapat membuat rencana jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengintegrasikan reklamasi, penanaman pohon, pengembangan wisata, dan budidaya perikanan dalam satu kerangka pengelolaan lahan pasca tambang.

Selain itu, dukungan pelatihan, modal usaha, dan pendampingan teknis juga sangat diperlukan agar ide-ide yang ada tidak berhenti hanya pada tataran wacana. Jika semua pihak dapat bersinergi, lahan pasca tambang yang selama ini identik dengan kerusakan dapat berubah menjadi simbol kebangkitan Desa Baskara Bakti.

Baca Juga  Disparitas Harga Sawit dan Rekomendasi Strategis untuk DPRD Bangka Selatan

Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa diskusi pemuda Desa Baskara Bakti ini memberikan pelajaran berharga. Bahwa dari sebuah ruang kecil yang diisi hanya enam orang, dapat lahir gagasan-gagasan besar yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan.

Dengan semangat kebersamaan, ide-ide ini dapat menjadi fondasi transformasi desa menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan. Pemuda telah menunjukkan kepeduliannya, kini tinggal bagaimana semua pihak bersama-sama mewujudkan impian tersebut. Lahan pascatambang bukan lagi sekadar sisa kerusakan, tetapi dapat disulap menjadi harapan baru untuk masa depan.