Mutu Pendidikan Bukan Sekadar Angka: Refleksi Seorang Kepala Sekolah
Mutu Pendidikan Bukan Sekadar Angka: Refleksi Seorang Kepala Sekolah
Oleh: Iswanto, S.Pd., M.Pd — Ketua MKKS SMP Kabupaten Bangka Selatan/Kepala SMP Negeri 2 Tukak Sadai
Ketika saya melihat data Dashboard Peta Mutu Pendidikan tahun 2025, ada rasa bangga sekaligus keprihatinan. Bangga karena banyak sekolah di Bangka Selatan sudah menunjukkan kemajuan, tetapi juga prihatin karena capaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) kita masih berada pada kategori sedang. Rerata SNP PAUD (63,96), SD (69,23), SMP (64,01), dan SMA (57,38) adalah cermin bahwa perjalanan kita masih panjang.
Sebagai kepala sekolah, saya merasakan langsung tantangan di lapangan. Literasi, numerasi, dan pembentukan karakter masih menjadi pekerjaan rumah terbesar.
Anak-anak kita hidup di tengah derasnya arus informasi digital, tetapi kemampuan membaca kritis dan bernalar logis belum tumbuh sekuat yang kita harapkan. Di sisi lain, kualifikasi guru kita sudah sangat baik hampir seluruhnya S1 dan sarana TIK di sekolah relatif memadai. Modal ini seharusnya bisa kita optimalkan.
Saya percaya, kunci dari semua ini adalah budaya mutu. Mutu pendidikan tidak cukup dijaga melalui laporan, akreditasi, atau rapor pendidikan. Mutu harus hadir dalam keseharian sekolah: bagaimana guru merancang pembelajaran, bagaimana siswa diajak berpikir kritis, bagaimana kepala sekolah membangun iklim inklusif, hingga bagaimana sekolah berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.
