Oleh: Yan Megawandi — Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Sudah dua setengah dekade Bangka Belitung berdiri sebagai provinsi sendiri. Waktu yang tak sebentar. Jika usia manusia, dua puluh tahun lebih adalah masa dewasa. Sudah waktunya berdiri tegak, menatap jauh ke depan, dan berani membuat pilihan-pilihan besar. Begitu pula mestinya dengan dunia pariwisata di provinsi kepulauan ini.

Kita tentu masih ingat bagaimana dekade pertama dan kedua perjalanan pariwisata Bangka Belitung begitu erat melekat dengan branding Laskar Pelangi. Nama itu bak mantra. Ia lahir dari sebuah karya sastra yang meledak, lalu menjelma menjadi film fenomenal.

Belitung mendadak jadi tujuan wisata, bukan lagi sekadar nama yang samar-samar di peta. Orang-orang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan dari luar negeri, berbondong-bondong datang.

Mereka ingin melihat langsung pantai putih, batu-batu granit raksasa, dan suasana kampung nelayan yang sederhana, sebagaimana tergambar dalam kisah Ikal dan kawan-kawannya.

Baca Juga  Tak Hanya Pantai Indah, Kabupaten Bangka Tengah Punya 2 Danau Indah yang Wajib Dikunjungi

Tak hanya itu, di tahun 2010 sempat ada program Visit Bangka Belitung Archipelago (Visit Babel Archi). Slogan ini seperti mencoba memperluas sayap, menegaskan bahwa Bangka Belitung bukan hanya Belitung semata.

Setahun kemudian, gaung lebih besar terdengar dengan Sail Wakatobi Belitong 2011. Event berskala nasional itu berhasil menyedot perhatian publik. Infrastruktur dibangun, bandara diperindah, jalan dibenahi. Belitung kembali tampil menawan di hadapan para tamu nusantara dan mancanegara.

Belitung kemudian punya “jualan” lain yang lebih kokoh. Tahun 2021, Geopark Belitong resmi diakui UNESCO sebagai bagian dari jaringan Geopark Global. Sebuah prestasi gemilang, karena dunia mengakui kekayaan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati pulau kecil ini. Dengan pengakuan itu, Belitung seperti mendapatkan kartu undangan resmi untuk ikut serta dalam pesta besar pariwisata dunia.

Lalu, bagaimana dengan Bangka?

Baca Juga  THR, Kompensasi yang Tak Memberi Arti

Di atas kertas, sesungguhnya Bangka tak kalah menjanjikan. Pantai-pantai indah bertebaran. Pulau-pulau kecilnya memikat. Sejarah timah yang panjang bisa saja dikemas menjadi daya tarik wisata edukasi.

Kuliner, budaya, dan keramahtamahan masyarakat pun adalah modal besar. Tetapi persoalannya, Bangka seakan tak punya satu tema besar yang memayungi. Setiap kabupaten dan kota seakan berjalan sendiri-sendiri. Festival diadakan, tapi lebih sering berhenti menjadi agenda seremonial tahunan, bukan sebuah narasi besar yang menempel dalam ingatan wisatawan.

Ada satu hal lain yang sering dikeluhkan para pelaku wisata: bayang-bayang tambang timah. Tak jarang, tambang baik legal maupun ilegal berdiri tak jauh dari kawasan wisata.

Bayangkan, tepat di depan sebuah resort indah di Pulau Bangka, aktivitas tambang menggerus pantai, membuat keruh laut, dan mengganggu suasana tenang yang mestinya jadi “jualan utama” pariwisata. “Tapi kami tak bisa lagi berkata-kata,” kata seorang pelaku wisata pasrah. Ia seolah kehilangan akal, karena tambang terlalu kuat mencengkeram hidup dan kehidupan di Bangka.

Baca Juga  Pembelajaran Mendalam: Investasi Masa Depan Pendidikan Indonesia

Di lain pihak ternyata timah yang dikuras dari Bangka Belitung tak didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan orang pulau dimana biji timah itu diambil. Padahal penambangan lebih tiga abad itu telah meninggalkan tragedy lingkungan yang tak hanya pahit tapi juga pekat.

Seperti peribahasa lupa kacang akan kulitnya. Timah justru diberi nilai tambah di pulau-pulau lain dengan berbagai argumentasi yang terlihat cerdas. Seakan orang di pulau timah ini tak faham dengan alasan sejatinya. Alangkah arifnya bila bagian uang timah itu ditanamkan kembali di Bangka Belitung.

Pulau tempat ia digali. Guna mengembangkan pariwisata. Setidaknya itu akan jadi semacam pencuci dosa karena telah melumuri pulau ini dengan lumpur dan debu selama tiga ratus tahun.