Babak Baru Pariwisata Bangka Belitung
Inilah dilema besar Bangka Belitung hari ini. Di satu sisi, pariwisata dipandang sebagai masa depan. Ia ramah lingkungan, memberi nilai tambah jangka panjang, dan bisa menghidupi banyak orang. Di sisi lain, timah masih menjadi raksasa ekonomi yang tak mudah dikendalikan.
Tak hanya ekonomi, pengaruhnya. Tambang juga merembes hingga ke ranah politik. Di banyak tempat di dunia, pariwisata hanya bisa benar-benar tumbuh setelah pertambangan berhenti. Malaysia dan Thailand adalah contohnya. Di sana, bekas tambang kemudian disulap menjadi kawasan wisata. Pertanyaannya: bagaimana caranya menyeimbangkan dua hal ini di Bangka Belitung, sementara tambang masih begitu dominan?
Sementara itu, dari sisi perencanaan, Bangka Belitung juga perlu berbenah. Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi yang disusun tahun 2016 rasanya sudah terlalu usang. Dunia berubah cepat, tren wisata pun demikian.
Belakangan, pemerintah pusat telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Bangka Belitung Tahun 2023–2044. Regulasi ini sejatinya adalah pedoman terpadu yang bisa menyatukan arah: mulai dari infrastruktur, investasi, lingkungan, hingga sosial budaya.
Artinya, ada peluang besar untuk menyelaraskan gerak kabupaten/kota yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri. Sudah saatnya ada tangan yang mampu menggandeng mereka agar selalu bersama menuju satu arah.
Namun, semua itu tetap kembali pada satu pertanyaan mendasar: apa payung besar yang akan kita pilih untuk babak baru pariwisata Bangka Belitung? Apakah kita akan terus bertahan pada tagline Laskar Pelangi yang sesungguhnya lebih merepresentasikan Belitung? Atau kita berani bergerak kreatif untuk mencari tema baru yang lebih segar, lebih menyatukan, dan lebih menjanjikan?
Mungkin kita perlu kembali belajar pada dekade awal. Saat itu, strategi memilih “jualan” yang tepat dan terbukti cukup berhasil. Laskar Pelangi bukan sekadar cerita, ia menjadi identitas. Sail Wakatobi Belitong bukan sekadar event, tapi momentum untuk membenahi infrastruktur.
Geopark Belitong bukan hanya predikat, melainkan legitimasi dunia internasional. Bukan itu saja, Geopark Belitong bahkan berhasil menjadi perekat yang menyatukan kembali dua kabupaten yang sebenarnya hanya berbeda administratif belaka. Maka, babak baru pariwisata Bangka Belitung juga harus dimulai dengan keberanian memilih narasi besar yang relevan dengan zaman ini.
Narasi itu bisa lahir dari keunikan posisi geografis Bangka Belitung yang berada di jalur rempah. Bisa juga dari kisah panjang tentang timah, yang jika dikemas dengan cerdas akan menjadi sejarah industri yang mendunia.
Bisa pula dari kekayaan kuliner yang tak ada duanya: lempah kuning, gangan, otak-otak, kue rintak, martabak Bangka, semuanya bisa menjadi pintu masuk. Atau bahkan dari semangat “hidup berdampingan dengan laut,” sebuah filosofi yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.
Kuncinya adalah satu: tema itu harus menjadi payung bersama. Ia bukan milik hanya satu kabupaten atau kota, melainkan seluruh Bangka Belitung. Dengan begitu, kita tak lagi berjalan sendiri-sendiri. Event, festival, promosi, hingga infrastruktur bisa bergerak dalam satu irama.
Tentu saja, pekerjaan rumah besar tetap ada: bagaimana menata ulang relasi antara tambang dan pariwisata. Jika sulit menghentikan tambang dalam waktu dekat, setidaknya kitab bisa memperlambat geraknya.
Atau setidaknya mungkin diperlukan zonasi yang jelas, penegakan aturan yang tegas, dan keberanian politik untuk memihak pada keberlanjutan. Tanpa itu, pariwisata akan selalu kalah langkah. Pariwisata hanya akan jadi semakin perlahan, tertinggal, dan akan jadi bunga dalam pelukan mimpi.
Bangka Belitung kini berada di persimpangan jalan. Dua puluh lima tahun sudah kita melangkah, dan dunia pariwisata menunggu pilihan berikutnya. Apakah kita akan terus menggantungkan diri pada kejayaan di masa lalu, ataukah kita lebih berani melahirkan narasi baru yang mestinya lebih segar?
Jawabannya ada pada keberanian kita sendiri. Karena sesungguhnya, modal dasar sudah ada. Alam indah, budaya kaya, sejarah panjang, kuliner menggoda, dan masyarakat yang ramah. Yang kurang hanyalah satu: payung besar yang bisa menaungi semuanya.
Dan mungkin, itulah pekerjaan rumah terpenting untuk babak baru pariwisata Bangka Belitung. Selamat Hari Pariwisata. Salam Takzim.
