Oleh: Yan Megawandi

Pada masa-masa di mana suhu politik masih cukup tinggi saat ini, ada tontonan yang cukup menarik bagi kita rakyat kebanyakan.

Lihatlah berbagai manuver yang dilakukan oleh para elit politik di pusat kekuasaan yang sudah mirip drama korea.  Kemarin berteman, besok jadi musuhan. Hari ini saling rangkul esok hari berubah jadi saling pukul.

Warisan sejarah dalam politik memang sudah semacam kepastian. Tak ada yang permanen. Seperti dalil yang lazim diperdengarkan agar kita tak perlu terlalu kehabisan energi untuk memikirkannya. Dalam urusan politik tak ada lawan dan kawan sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati.

Kita menyaksikan misalnya dua tokoh nasional yang selama dua kali pemilihan presiden selalu berseberangan dan bersaingan, bahkan membuat seolah-olah bangsa ini hampir terbelah dua, ternyata kemudian melakukan rekonsiliasi.

Mereka lalu memutuskan untuk bergabung dalam sebuah pemerintahan yang sama. Tinggalah para pengikut dan simpatisannya yang kemudian kebingungan. Menyaksikan drama yang sebenarnya menyejukkan, tapi juga membuat gemas orang-orang yang tadinya merasa telah berjuang membela calonnya habis-habisan.

Ternyata hal yang terjadi di pusat-pusat kekuasaan juga menjalar sampai ke bawah. Tempat di mana rakyat kadang-kadang larut dalam permainan pencitraan yang dilakukan oleh para politisi. Maka kemudian muncul kabar tak sedap di lapisan bawah di kalangan rakyat jelata.

Ada suami yang sampai menceraikan istri hanya  gegara beda pilihan politik. Suami mengagumi seorang capres, sementara sang istri justru mengidolakan capres yang lain. Ada pula anak menantu yang kemudian diusir dari rumah oleh mertuanya. Sebabnya sama. Berbeda pilihan politik.

Anda masih bisa menambahkan banyak contoh di mana perbedaan sikap dan kecenderungan politik kemudian menjadi awal keributan. Silakan dilihat di grup-grup whats apps yang ada di ponsel kita masing-masing. Saling serang, saling hujat, saling memaki dan saling menuduh.

Di grup alumni sekolah menengah saya misalnya sampai beberapa teman keluar dari grup karena tak tahan lagi dengan situasi yang ada. Boleh jadi yang bersangkutan terlalu baperan. Terbawa perasaan. Tetapi begitulah pemandangan kita hari-hari ini.

Untuk keramaian dan dinamika dari hasil pemilihan presiden dan wakil presiden serta legislatif barangkali akan mereda bila kelak KPU telah mengumumkan hasil perhitungannya. Dan KPU juga berhasil meyakinkan rakyat bahwa yang mereka lakukan adalah hasil kerja yang jujur dan adil.

Karena yang akan disahkan bukan lagi  hasil hitung cepat lembaga survei yang ditengarai beberapa pihak merupakan upaya penggiringan opini publik. Padahal pastilah para pihak yang berkontestasi tersebut juga telah menyewa atau bekerja sama pula dengan lembaga-lembaga survei yang juga melakukan metode yang tak berbeda dengan yang selama ini ada.