Lintasan Masa Seorang Guru Besar: Bangka, Bondowoso dan Bengkulu

Oleh: Yan Megawandi — Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Ada tiga tempat yang kebetulan berawalan huruf B yaitu Bangka, Bondowoso dan Bengkulu yang menjadi salah satu lintasan kehidupan seorang guru besar yang menapaki karirnya dari bawah dan merangkak naik sampai di posisinya saat ini.

Barangkali sejarah memang menyukai kejutan. Seorang bayi prematur yang lahir tujuh bulan kandungan, di sebuah rumah sakit tentara di Pangkalpinang yang dulu sering disebut dengan DKT (Dinas Kesehatan Tentara) tempat ayahnya bekerja.

Hari itu tanggal 5 Januari 1966 ia dilahirkan dengan berat badan hanya satu kilogram tujuh ons. Namun lihatlah kini ia akan berdiri tegak sebagai Guru Besar dalam kepakaran Pengkajian Islam. Bukan sulapan, bukan mimpi. Ini nyata, dan namanya: Rusydi Sulaiman.

Di hari Selasa tanggal 3 Juni 2025 besok, aula Gedung Terpadu IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung akan menjadi saksi dari perjalanan panjang seorang anak kampung yang menolak tunduk pada takdir biasa-biasa saja.

Dari kediaman awalnya di Kampung Melintang yang pernah dicap sebagai “Texas”nya Pangkalpinang karena riuh gaduhnya, Rusydi mengangkat pelita ilmu, meniti jalan sunyi yang penuh perjuangan, tekad, dan air mata.

“Idi” Kecil dan Pesan Langit

Sulung dari delapan bersaudara anak dari pasangan H. Sulaiman bin H. Achmad dan Djamaidah binti H. Djakfar ini ketika kecil lebih sering dipanggil Idi atau Edi. Idi kecil yang belajar menulis Arab sejak sekolah dasar.

Baca Juga  Bangga Buatan Indonesia sebagai Wujud Bela Negara

Yang pernah diusir dari warung hanya karena berpuasa di bulan Ramadan. Tapi justru dari luka-luka kecil seperti itulah menjadi bekal tempaan iman dan keberanian digodok.

Maka ketika keinginan untuk menuntut ilmu di tanah seberang yaitu ke Gontor muncul seperti api yang tak bisa dipadamkan, ia melompat ke Jawa Timur, menjemput takdirnya.

Setamat dari sekolahnya di SDN 1 Pangkalpinang pada tahun 1979 ia mulai merantau ke Pulau Jawa. Di Gontor, Rusydi kecil mulai menjadi bagian dari para pemimpi muda yang ditempa dengan keras oleh tradisi.

Di sana pula namanya yang semula “Rusdi” atau “Rusdie” disempurnakan menjadi “Rusydi Sulaiman” oleh seorang guru, seakan-akan itu pertanda bahwa takdir sedang memperjelas garis hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor di tahun 1986, Rusydi mulai memilih jalan hidupnya yang baru. Ketika kebanyakan orang lain terutama anak muda di negeri ini berbondong-bondong mengejar Jakarta atau luar negeri, Rusydi justru lebih memilih mengabdi di Nurul Jadid.

Sebuah pesantren di Paiton, Probolinggo. Di balik kesederhanaan, ada gegas kemajuan yang tak kalah nyaring dari PLTU yang kini menguasai langit di sisi barat desa ini.

Di Nurul Jadid, gagasan-gagasan besar tentang Islam, pendidikan, dan kemanusiaan dilahirkan dengan cara yang sangat khas: melalui keteladanan, keheningan, dan keberanian untuk menyentuh masa depan tanpa kehilangan pijakan tradisi.

Baca Juga  Mari Mencintai Bangka Selatan

Adalah Kiai Zaini Mun’im, pendiri pesantren ini, ia bukan sekadar tokoh. Ia adalah pelintas zaman. Ia seperti suluh yang tak memilih terang sendiri, melainkan memancarkan cahaya agar yang lain bisa melihat jalan.

Di tangan Kiai Zaini Mun’im, pesantren bukan hanya tempat menghafal, tetapi juga tempat berpikir. Santri bukan hanya pengikut, tetapi pemikir muda yang disiapkan untuk dunia yang tak selalu ramah.

Belajar hidup di daerah Tapal Kuda

Dan begitulah Paiton: tempat di mana kabel-kabel listrik menjulang tinggi, tapi juga tasbih-tasbih menggantung di jendela asrama. Ia adalah tempat dimana kultur Madura didekap erat.

Di mana laboratorium komputer berdampingan dengan mushala kecil. Di mana masa depan digenggam, tapi masa lalu tetap dipeluk erat. Nurul Jadid bukan sekadar tempat.

Ia adalah cara. Cara merawat keyakinan dalam dunia yang berubah cepat. Cara mendidik tanpa menggurui. Cara mencintai tanpa harus memenjarakan.

Tak bisa sembarangan di Paiton. Tidak cukup hanya datang dengan niat baik. Harus tahu kapan bicara, kapan pula mesti diam.

Harus mengerti bahwa “tidak” bisa berarti “ya”, dan “ya” bisa berarti “coba lagi nanti”. Bahasa Madura bukan hanya kata-kata, tapi juga raut muka dan gerak tubuh. Dan dalam masyarakat yang hidup dengan etika lisan, siapa yang tak cermat bisa tergelincir dalam tafsir yang menyesatkan.

Baca Juga  Kerusakan Lingkungan di Bangka Belitung pada Kasus Tipikor Komoditas Timah Capai Rp271 T

Kaki siapa pun yang menginjak tanah Paiton untuk pertama kali harus siap menanggalkan sepatu identitas lamanya. Bukan untuk kehilangan, tetapi untuk belajar menyatu. Sebab, Paiton, seperti kebanyakan wilayah di Tapal Kuda, menyimpan tradisi Madura yang kukuh.

Bukan sekadar bahasa, tapi cara bicara. Bukan sekadar adat, tapi cara hidup. Dan dalam bayangan kehidupan budaya seperti itulah kemudian selama berada di Nurul Jadid, Rusydi beradaptasi dengan kultur Madura.

Karena daerah ini termasuk wilayah yang sering disebut sebagai daerah Tapal Kuda. Sebagian besar santri dan para ustaz berbahasa Madura dan secara kultural sangat Madura.

Di tempat seperti inilah Rusydi kemudian menapaki kehidupan awalnya. Ia mengajar bahasa Arab, Inggris, bahkan Jerman. Ia tidak hanya mencerdaskan santri, tapi juga membersihkan halaman, mulai mencoba menulis buku ajar, menjadi ketua panitia Harlah, sampai merintis koperasi.

Di tengah keterbatasan, ia menyemai harapan. Selain mengabdi sebagai ustaz atau guru bakti di Gontor, Rusydi juga kuliah di Fakultas Ushuluddin Jur. Perbandingan Agama IPD (Institut Pendidikan Darussalam Gontor Ponorogo).

Di Paiton, cahaya bukan hanya datang dari kehidupan keseharian yang keras. Ia juga datang dari buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh, dari sejadah yang tak pernah tergulung terlalu lama, dan dari laku hidup yang sederhana tapi penuh makna.