Lalu dari sanalah kemudian Rusydi muda berjumpa dengan cintanya. Ia kemudian menikah dengan buah hatinya seorang gadis yang bernama Quratul Faisah yang berasal dari Bondowoso. Mereka kemudian menikah pada tanggal 5 Juni 1993 di Badean Bondowoso Jawa Timur dan membangun keluarga sambil terus mengabdi.

Mereka kemudian menetap di Bondowoso, sementara Rusydi masih bolak balik ke Paiton. Tiga hari dalam seminggu ke Paiton sementara empat hari di kota Bondowosa. Di Bondowoso disempatkannya mengembangkan usaha berupa jualan pakan burung, arang, kayu bakar dan bensin.

Di samping itu ia juga membuka sebuah tempat kursus bahasa Inggris. Sebuah jalan sunyi yang nyaris tanpa plang nama. Hanya mereka yang hatinya penuh nyala yang mau menapaki jalan seperti ini.

Perjalanan Iman dan Ilmu

Beasiswa akhirnya membawanya hijrah ke Jakarta, ke Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Itu merupakan masa-masa yang cukup sulit baginya. Rusydi harus menjalani kuliah di Ciputat Jakarta, sementara istri dan anak-anaknya terpaksa tetap tinggal di Bondowoso.

Di Ciputat, ia hidup pas-pasan, tetapi penuh semangat. “Kalau mau main pingpong, mainlah dengan orang yang jago smash,” kata gurunya.

Ia dengar, dan ia jalani. Ketika itu ia mendapat bantuan bulanan sebesar Rp150.000,- setiap bulan dari Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo atas nama Dosen Tetap IAI Nurul Jadid. Dari jumlah itu Rp50 ribu rupiah ditinggalkan untuk keluarga di rumah di Bondowoso.

Baca Juga  Estafet Kepemimpinan

Menyelesaikan kuliah S2 tahun 1998. Ketika itu di semester empat ada kebijakan menjadikan semua mahasiswa bea siswa di Kementerian Agama sebagai CPNS.

Dengan berbagai pertimbangan status itu disandangnya. Kemudian ia ditempatkan mengajar di STAIN Bengkulu. Kemudian atas rekomendasi Ketua STAIN Bengkulu, Buya Badrul Munir, Rusydi lulus masuk Strata 3 (Program Doktoral), di bulan Agustus 1999. Ketika itu keluarganya mulai pindah ke Jember.

Di masa penyelesaian disertasi, Rusydi harus bolak balik Jember-Jakarta-Bengkulu di setiap tiga bulan, juga tetap mengampu mata kuliah di IAI Nurul Jadid karena saat itu berstatus mahasiswa aktif program Doktoral UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan tertatih-tatih dan penuh pengorbanan pastinya, terutama istri tercinta sambil buka usaha kue bronis kecil-kecilan di kampung.

Pada bulan Juni 2008, Rusydi dan keluarga mulai menetap di Bengkulu, tepatnya di lingkungan kampus STAIN Bengkulu.

Namun anak pertamanya, Shofiyah Fairus Islami tetap belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 Mantingan Jawa Timur. Anak kedua, Iffan Fairus Islami dan anak ketiga alias si bungsu, Alfi Anwari Fairus Islami ikut tinggal bersama di Bengkulu.

Setelah mengabdi cukup lama di Bengkulu, Rusydi dan keluarga kembali ke kampung halamannya tumpah darah tempat ia dilahirkan di Pangkalpinang pada 1 Januari 2011.

Mereka lalu tinggal bersama kedua orang tua, tepatnya di Kampung Keramat (samping Puskesmas Keramat) Gg.Rambutan II Kota Pangkalpinang.

Baca Juga  Pemerintahan Ramping, Kepala Berat: Antara Rasionalitas Fiskal dan Ego Jabatan

Di tanah kelahiran inilah ia kembali menyemai ilmu. Dari dosen ia kemudian menjabat sejumlah posisi strategis. Menjadi Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Wakil Rektor bidang Akademik dan Penguatan Kelembagaan, dan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam. Tapi jabatan-jabatan itu, katanya, bukan puncak. Puncaknya adalah tetap menjadi murid, tetap belajar, dan tetap memberi.

Buku-Buku yang Menuntunnya Pulang

Ada satu hal yang sejak lama diyakini oleh Rusydi: bahwa kata-kata yang dirangkai dengan ketekunan akan selalu menemukan jalannya. Dalam bentuk tulisan. Dalam bentuk buku. Ia tidak pernah bermimpi besar untuk menjadi siapa-siapa.

Tapi ia percaya bahwa siapa pun bisa menjadi lebih baik jika mau bersahabat dengan tulisan. Maka sejak dini, ia menulis. Di tengah kesibukan sebagai guru, dosen, dan pengabdi kampus, ia tetap mencuri waktu untuk menyusun buku ajar, menerbitkan opini, mengedit naskah, bahkan menyunting jurnal.

Di balik gaya bicaranya yang tenang, tersembunyi disiplin yang keras terhadap dunia literasi. Baginya, menulis itu bukan gaya hidup akademik. Ia adalah bentuk zikir dalam peradaban ilmu.

Di kampus, ia membentuk tim kecil yang solid. Muda-muda, rajin, dan penuh semangat. Mereka menggerakkan Madania Center Bangka Belitung.

Bukan sekadar organisasi, Madania adalah laboratorium ide, taman tumbuhnya gagasan-gagasan keislaman dan kemanusiaan, yang berakar dari tradisi pesantren dan menjulang ke cakrawala akademik.

Madania menerbitkan buku-buku, menyelenggarakan pelatihan literasi, bahkan memotret kembali Islam dari sudut yang lebih lembut dan berbudaya.

Baca Juga  Representasi Jurnalis Anti-Hoaks: Membangun Peradaban Literasi di Era Informasi Digital

“Karena buku,” katanya suatu kali, “kita bisa membayangkan jalan yang belum pernah kita lalui. Dan kadang, jalan itulah yang mengantar kita pada pencapaian-pencapaian tak terduga. Termasuk menjadi Guru Besar”. Ia membuktikan bahwa yang mencintai buku, akan dijaga oleh ilmu. Dan yang tekun menulis, akan dibimbing oleh sejarah.

Guru Besar bukan gelar yang jatuh dari langit. Ia dibangun dari suara yang terdengar di ruang-ruang kelas, dari baris-baris makalah, dari rapat-rapat sunyi, dari doa-doa panjang sang istri, orang tua dan keluarga, dan dari keyakinan.

Ia percaya bahwa ilmu adalah bentuk paling murni dari ibadah. Maka ketika SK sebagai Guru Besar itu datang, tidak ada teriakan kemenangan. Hanya sepasang mata yang berlinang, dan rasa syukur yang tak bertepi.

Prof. Dr. Rusydi Sulaiman adalah anak dari kampung yang pernah dipinggirkan. Tapi ia memilih menjadi cahaya, bukan menumpuk luka. Ia tidak berjalan dengan cepat, tapi pasti. Ia tidak berteriak, tapi karya-karyanya bicara.

Ia tidak tinggi suara, tapi akarnya dalam. Maka tanggal 3 Juni besok bukan hanya upacara pengukuhan. Ia adalah peringatan kecil, bahwa kerja sunyi itu tidak sia-sia.

Selamat, Prof. Rusydi. Dunia tidak membutuhkan banyak orang besar. Tapi dunia sangat membutuhkan orang-orang baik yang bersedia berjalan jauh, dalam diam, dengan setia.