Tak kalah penting yang harus diagendakan perpustakaan untuk menjadi perpustakaan hebat adalah dengan membuat ruang komunitas. Ruang komunitas tersebut dapat diwujudkan perpustakaan dengan merangkul komunitas-komunitas di daerah (baik komunitas literasi atau non literasi) untuk bersama-sama merancang agenda untuk menghidupkan perpustakaan.

Agenda tersebut dibuat secara terstruktur dalam bentuk program selama satu tahun sehingga selalu ada kegiatan di perpustakaan. Baik itu seminar, pelatihan menulis, bedah buku, kenal penulis, launcing buku, cetak buku, pameran buku, gebyar literasi, rak penulis lokal, perlombaan atau lainnya sehingga perpustakaan terus dapat berdenyut.

Perpustakaan Harus Istagramebel

Penataan perpustakaan tidak harus dingin atau mati rasa. Penataan perpustakaan harus kekinian, dinding-dindingnya harus bicara dan tidak kaku.

Baca Juga  Diversifikasi Ekonomi Bangka Belitung: Ciptakan Fondasi Baru bagi Pembangunan

Intinya perpustakaan harus bisa mempermak dirinya menjadi istagramebel sehingga bisa menarik pengunjung utamanya Gen Z dan Alpa untuk datang.

Lebih dari itu, perpustakaan istagramebel juga dapat menjadi sarana promosi gratis bagi masyarakat luas karena setiap pengunjung yang datang akan mengunggah kegiatannya saat di perpustakaan ke media sosial yang mereka miliki.

Membuat Sudut Kopi

Sudut kopi bukan sudut biasa, sudut kopi adalah sudut dimana pengunjung perpustakaan bisa membaca sekaligus minum kopi dan makan. Sudut kopi juga bisa menjadi daya tarik baru bagi perpustakaan utamanya untuk menggaet pengunjung generasi Z dan Alpa.

Sudut kopi bisa menjadi tempat baru bagi pengunjung untuk berdiskusi, membaca, mencari inspirasi atau ide-ide baru sehingga perpustakaan lebih kekinian dan bisa menjadi tempat berkumpul komunitas.

Baca Juga  Keadilan bagi Perempuan: Apakah Putusan Perceraian di Peradilan Agama Sudah Berpihak pada Kesetaraan Gender?

Perpustakaan Harus Interaktif

Konsep perpustakaan tidak harus terus-menurus berfokus pada buku. Perpustakaan harus interaktif sehingga pengunjung bisa merasakan pengalaman baru saat berkunjung ke perpustakaan.

Hal itu juga selaras dengan perkembangan buku saat ini yang telah beralih wahana menjadi berbagai rupa wajah seperti komik ke anime, novel ke film, puisi ke musik atau cerpen ke drama.

Oleh karena itu perpustakaan harus interaktif dengan menyajikan ruang-ruang berbeda selain buku semisal adanya bioskop mini (ruang multimedia) yang bisa memenuhi ruang belajar visual bagi pengunjung utamanya anak-anak atau siswa.

Bioskop mini juga bisa menjadi agenda rutin perpustakaan sehingga menjadi daya tarik baru bagi pengunjung untuk merasakan sensasi berkunjung ke perpustakaan.

Baca Juga  Urgensi dan Dilema Kumulasi Gugatan Cerai dan Harta Bersama dalam Hukum Praktik Peradilan Agama

Selain itu interaktifnya perpustakaan juga bisa diwujudkan dari adanya alat peraga semisal poster interaktif, pipa bercerita, dinding berdendang, meja anatomi atau lainnya yang bisa membuat seseorang tertarik berkunjung ke perpustakan.

Perpustakaan tidak boleh mati, perpustakan harus menjadi ruang hidup yang terus berdenyut dengan agenda-agenda dan orang-orang hidup yang hidup menghidupi perpustakaan.