Dari Aksi Sederhana Menuju Festival Literasi: Perjalanan Redaksi Fest 2025
Mely menuturkan, latar belakang lahirnya Redaksi Fest ini berawal dari rutinitas sederhana komunitas Abu Biru, yakni membuka lapak baca dan mewarnai gratis di Kulong Bakung, Toboali sejak tahun 2024.
“Redaksi Fest ini sebenarnya berawal dari sesuatu yang sangat sederhana. Dulu, kita hanya bikin lapak baca kecil-kecilan, bawa buku, gelar meja, ajak anak-anak dan teman-teman sekitar untuk membaca bareng,” kenangnya.
Nama “Redaksi” sendiri menjadi simbol semangat komunitas, singkatan dari “Bergerak dengan Aksi”.
“Saya pikir kita sepakat, literasi tidak akan tumbuh kalau hanya berhenti di wacana. Harus ada gerakan nyata dan aksi bersama,” tuturnya.
“Kalau diingat-ingat lucu juga, tiap lapak baca kami bawa buku di kardus besar, nenteng-nenteng meja dan anehnya makin capek bawa buku, makin yakin kalau gerakan ini nggak boleh berhenti. Karena capeknya terbayar lunas tiap liat antusias anak-anak buka buku dari halaman ke halaman, rebutan ikut mengulas buku demi dapat hadiah,” ujarnya.
Mely mengatakan, dana yang pihaknya pakai selama setahun itu murni sumber anggarannya dari dana pribadi masing-masing anggota.
“Alhamdulillah, sekarang bisa dipercayai mendapatkan bantuan dana dari Kemendikdasmen,” tambahnya.
Lebih lanjut, dikatakan Mely acara ini tidak hanya berhenti pada pelatihan mendongeng.
“Rangkaian kegiatan Redaksi Fest 2025 ini mencakup Pelatihan Mendongeng, Pelatihan Menulis Cerpen mini, dan Pelatihan Membaca Nyaring, serta ada kegiatan literasi rutin komunitas yaitu lapak baca buku, mewarnai gratis, serta sharing session berupa review buku,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ajang kolaborasi pegiat literasi di Bangka Selatan.
“Mari kita jadikan acara ini bukan sekadar formalitas kumpul-kumpul, tapi momen untuk semangat baru, gagasan baru, dan tekad untuk terus menyalakan literasi di tengah lingkungan kita. Mari kita buktikan bersama bahwa literasi bukan hanya gagasan, tapi aksi nyata. Dari kita, oleh kita, untuk Indonesia,” tutupnya.
Salah seorang peserta, Chandra Ayu Rizki, menyampaikan sangat senang dan bersemangat bergabung dalam pelatihan mendongeng kali ini.
“Saya merasa sangat senang dan bersemangat bisa bergabung dalam pelatihan mendongeng ini. Mendongeng bukan hanya tentang bercerita, tetapi juga tentang belajar, berimajinasi, dan menyampaikan pesan kehidupan dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.
“Lewat cerita, kita bisa menanamkan nilai, membangun karakter, dan tentu saja memberikan kebahagiaan bagi anak-anak maupun pendengar,” imbuhnya.
