Sosialisasi Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Orang Tua Siswa di Sekolah

Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah melakukan sosialisasi terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada orang tua siswa di masing-masing sekolah. Sosialisasi tersebut dilakukan untuk memastikan pemahaman yang baik antara pemerintah, sekolah dan orang tua terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) termasuk dalam kaitan biaya besaran porsi makanan.

Melakukan Pendataan Jumlah Siswa Penerima MBG di Sekolah

Selain melakukan sosialisasi program, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah juga perlu melakukan pendataan jumlah siswa penerima MBG di sekolah sehingga terjadi validasi data yang akurat.

Melakukan Pendataan Terkait Nomor Rekening Orang Tua Penerima MBG

Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah melakukan pendataan nomor rekening orangtua penerima MBG. Itu dilakukan untuk melakukan trasfer kepada orang tua dalam kaitan biaya ganti jasa menyiapkan menu makan bergizi gratis (MBG) untuk bekal siswa ke sekolah.

Baca Juga  Prestasi Baik Kontingen Karate Bangka Selatan di Kejuaraan FORKI Bangka Belitung

Merencanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Sekolah

Setelah 3 mekanisme sebelumnya telah dilakukan, maka langkah lanjutanya adalah merencanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Sekolah. Hal itu dilakukan dengan membuat program yang akan dilakukan sekolah dengan menyepakati kapan kegiatan akan dilakukan, jam berapa kegiatan dijalankan atau makanisme kegiatannya (makan di dalam kelas atau luar kelas).

Perwakilan Badan Gizi Nasional Melakukan Pendataan Pelaksanaan MBG di Sekolah

Setiap hari perwakilan Badan Gizi Nasional di daerah akan melakukan pendataan ke sekolah-sekolah terkait pelaksanaan MBG. Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan MBG di sekolah dengan melakukan ceklis siswa yang membawa bekal dan melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis dan tidak.

Misal di kelas X ada 30 siswa, di hari senin yang masuk dan membawa bekal ada 28 orang, maka tim akan menceklis siswa-siswa yang membawa bekal yang tidak tidak akan di ceklis di hari tersebut. Itu dilakukan untuk mendapatkan data keterlaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Baca Juga  Timah Indonesia, 271 Vs 27000, Sebuah Refleksi Menyambut International Workers Day

Perwakilan Badan Gizi Nasional Melakukan Rekap Data Setiap Bulan

Setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan dalam kurun waktu 1 bulan, perwakilan Badan Gizi Nasional (yang diberi tugas) melakukan rekap dan singkron data terkait keterlaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Data tersebut digunakan untuk nantinya sebagai bahan pertimbangan dalam kaitan trasfer uang untuk balas jasa bagi orangtua.

Semisal jika seorang anak dalam satu bulan masuk sekolah hanya melakukan 20 kali program Makan Bergizi Gratis (MBG) maka dana yang akan ditrasfer sebanyak siswa/anak tersebut melaksanakan program.

Karena sudah pasti seorang siswa dalam satu bulan akan ada saja yang tidak masuk kelas, entah karena fakultatif, sakit, izin keperluan keluarga atau ada urusan lainnya.

Transfer Uang Pengganti kepada Orang Tua sebagai Balas Jasa Pelaksanaan MBG

Setelah data rekap perbulan valid dan sudah pasti maka langkah selanjutnya adalah melakukan trasfer kepada orantua siswa penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG). Terkait dana trasfer sebagai balas jasa kepada orangtua telah disepakati ketika sosialisasi program dilakukan.

Baca Juga  Tingkatkan Kemampuan Menulis Siswa dan Guru, SMPN 2 Tukak Sadai Gelar Workshop Literasi

Semisal dalam satu kali program Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap anak mendapat besaran dana sebesar Rp10.000,- untuk setiap paket makanan yang dibuat oleh orang tua. Maka setiap bulan tinggal dikalian besaran yang akan didapat orang tua dengan rumus banyak program terlaksana x Rp10.000,-

Semisal 24 hari x Rp10.000 maka yang akan didapat orang tua perbulan dari balas jasa program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah Rp240.000.

Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program yang baik karena bertujuan untuk meningkatkan gizi masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan sehingga sangat sayang bila disetop, namun dalam kaitan pelaksanaan masih bisa terus dievaluasi dan menggunakan berbagai cara hingga menemukan rumusan yang pas seperti salah satunya mengembalikannya kepada emak.