Selamat Jalan Pipiet Senja, sang Pejuang Kata dan Cahaya Literasi
Selamat Jalan Pipiet Senja, sang Pejuang Kata dan Cahaya Literasi
Oleh: Bachtiyar — Penikmat Kata
Dunia sastra dan kepenulisan Indonesia kehilangan salah satu bintang terangnya. Senin malam, 29 September 2025, Pipiet Senja, nama pena dari Etty Hadiwati Arief, berpulang ke rahmatullah di Depok, Jawa Barat, pada usia 68 tahun.
Bagi banyak pembaca, penulis muda, dan teman-teman di Forum Lingkar Pena (FLP), kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang penulis, tetapi juga kehilangan inspirasi dan teladan semangat yang tak kenal lelah.
Penulis pertama kali mengenal Pipiet Senja pada awal tahun 2000-an. Bukan kenal secara personal. Tetapi mengenal melalui tulisan-tulisannya yang hadir di majalah Annida.
Cerpen dan novel yang beliau tulis bukan hanya menghibur, tetapi membuka jendela dunia yang kaya akan nilai, emosi, dan refleksi. Membaca karya beliau memicu rasa ingin tahu, menumbuhkan kegemaran membaca. Beliau bukan sekadar menulis, tapi menyalakan api semangat di hati setiap pembaca dan penulis muda.
Pipiet Senja lahir di Sumedang, 16 Mei 1957. Sejak kecil, beliau harus menghadapi tantangan besar. Penyakit thalassemia yang mengharuskannya menjalani transfusi darah rutin. Seiring usia, Beliau juga menderita beberapa komplikasi penyakit. Tapi, semua keterbatasan ini tidak pernah menjadi penghalang, justru menjadi sumber kekuatan.
Banyak orang mungkin menyerah dalam kondisi seperti itu, tetapi bagi Pipiet, setiap rasa sakit menjadi pengingat untuk terus berkarya. Ia tetap menulis melampaui segala keterbatasan.
Menahan nyeri saat mengetik naskah di mesin ketik, menulis dengan tinta di atas kertas ketika tangan lelah, hingga akhirnya menulis di komputer dan gawai di beberapa tahun terakhir. Setiap karya adalah bukti ketekunan, kesabaran, dan keberanian menghadapi kehidupan.
Beliau tidak hanya mahir menulis dalam bahasa Indonesia.
