Namun, secercah cahaya, masih berkedip samar,
Di balik jurang kelam noda, asa mulai memancar.
Ingatan tentang-Nya, menyulut bara harapan,
Untuk bangkit dari kehancuran jiwa yang terkapar.

Air mata taubat, mengalir deras, membanjiri pipi,
Membersihkan karatan jiwa, dari kerak dosa duniawi.
Doa kupanjatkan, dengan rintihan pilu, sepenuh hati,
Memohon ampunan-Nya, atas segala nista diri.

Kini, kupijakkan jejak, dengan tekad membaja,
Meninggalkan jurang fana yang menyesatkan jiwa.
Menuju jalan-Nya, yang abadi, penuh cahaya,
Dengan harapan meraih ampunan dan rahmat-Nya.

Ratapan jiwa yang pilu ini, menjadi penanda,
Bahwa hidayah-Nya, tak pernah usai menanti.
Siapa pun yang kembali, dengan hati yang luluh,
Akan temukan ketenangan hakiki, abadi.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra