Pengantar Minum Racun
Pikiran pusing tidak karuan
Kumpul kebo
Ya cuma kebo-keboan…
“Hahaha, lagu macam apa ini?”, ceplos Dini.
“Heh! Jangan meremehkan, Din. Ini lagu enak buat ngiring mancing. Apalagi bakal ada konser Pengantar Minum Racun di Bahang minggu depan.”
“Pengantar Minum Racun?”
“Iya, nama orkes Pak Jhonny.”
“Lirik lagunya kocak tapi ngasih nama band kayak orang stress. Kok bisa beda gitu, bjir? Hahaha.”
“Iya, emang nama dari sononya begitu. Pokoknya kita harus nonton Pengantar Minum Racun. Nanti kujemput deh,” ujar Bujang sambil menunjukkan motor bututnya yang tinggal mesin lapis rangka, tanpa lampu apapun, dan terkenal berisik seantero desa.
“Ya sudahlah, kutunggu.”
Seminggu kemudian, hari konser pun tiba. Warga desa antusias menyiapkan diri menuju Bahang, sebuah kota kecil berjarak 5 km di selatan Desa Baking. Bujang pun sudah berpenampilan kece sore itu. Rambut gaya Mohawk, baju kemeja lengan panjang, celana jeans robek, dan sepatu sneaker.
Setelah mengisi penuh tangki bensin, ia pun menggeber motor menuju rumah Dini.
“Yo ke Konser Minum Racun!” teriak lelaki itu dari teras rumah kekasihnya.
Tidak terdengar suara apa-apa. Pintu sudah diketuk beberapa kali, tetapi nihil respons dari penghuninya. “Apa jangan-jangan Dini sudah berangkat duluan?” gumam Bujang. Setelah gagang pintu digerakkan, ternyata rumah itu tidak terkunci. Bujang pun masuk dan mengitari ruangan rumah itu.
“Din?!” Bujang terperanjat kaget mendapati Dini terbujur kaku di ranjang kamarnya dengan kondisi mulut berbusa. Di lantai bawah dipan, tampak setengah gelas cairan putih yang berbau menyengat dan secarik kertas. Tak terasa, air mata Bujang mengalir di kedua pipinya ketika membaca tulisan di kertas itu:
“Aku sudah mendengar orkes pengantar itu. Cukup saatnya kuteguk tanpa perlu diantar-antar. Maafkan keputusanku, Jang.”
Sayup alunan orkes tertutup pengumuman duka cita dari Toa masjid. Warga Desa Baking terpecah dalam beragam opini. Ada yang menyayangkan, ketakutan, bahkan mencap siksa neraka. Tapi apapun opini mereka, garis polisi sudah mengitari TKP dan liang lahat telah ditutup. Hari yang harusnya menyenangkan menjadi momen paling menyedihkan dalam hidup Bujang.
Seiring waktu bergulir, semakin kalut pula hati Bujang. Rasa duka mendalam dilarikannya ke minum-minum arak di pinggir sungai. Bila dulu seharian mancing, kini seharian mabuk. Teriakannya pun sudah bisa ditebak warga. Bila bukan “Jangan tinggalkanku”, maka sudah pasti “Neng ayo Neng.”
