Neng Ayo Neng, Kita Dengarkan Lagu Judul-Judulan
Dan bukan tidak mungkin, beberapa tahun ke depan, sungai-sungai itu akan disulap menjadi rumah beton. Dan bukan tidak mungkin akan menjadi ruang berkembang biaknya tanaman-tanaman milik pribadi dan perseorangan yang terus memupuk kekayaan untuk keluarganya. Untuk dinastinya.
Untuk sementara, Bujang masih bisa menghabiskan waktunya dengan memancing di sungai. Ketika sungai sudah tersulap dan hilang dari peta, apakah mereka harus memancing keributan?
Oh… Jangan.
Dini, tokoh utama lainnya hanya mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama. Dan bukan tidak mungkin banyak anak-anak seusianya yang harus putus sekolah dengan berbagai problemnya. Sementara intervensi pemerintah kurang maksimal. Intervensi pemerintah hanya untuk program pencitraan pemimpinnya.
Untuk menikah, Dini menyadari, dirinya masih di bawah umur. Belum layak menjadi seorang Ibu.
Terima kasih pak dokter untuk cerita pendeknya.
Cerita pendek bukan sekadar fiksi semata. Ada pesan moral dan sosial di dalamnya. Kita sebagai penulisnya bisa menyelinapkan unsur kritis dalam cerpen tanpa harus membuat malu.
Kita sebagai penulis cerita pendek bisa memasukkan unsur kontrol sosial dalam paragrafnya tanpa harus membuat merah muka sang pembaca.
Kalau sudah demikian yo kite Neng mendengarkan lagu dari orkes PMR yang berjudul Judul-judulan.
