Oleh: Yoel Chaidir

“Cepat masuk!” perintah Muis sambil mendorong tubuh Iwan melewati lubang terbuat dari kayu penyapu yang dibelah sehingga membentuk lubang. Usai melewati kayu, Muis lalu menutup rapat belahan kayu.

Keduanya lalu duduk sambil melihat makhluk hitam tinggi besar berbulu lebat tak jauh dari mereka. Makhluk itu melotot dan menyeringai sambil mencari buruannya yang hilang setelah melewati kayu terbelah.

Buruannya kali ini tak mampu ia tembus dengan matanya yang merah bagaikan bara api. Padahal mereka (Muis dan Iwan) hanya melewati lobang kayu penyapu padang yang dibuat oleh Muis dengan parang.

Muis lalu menutup kayu itu dengan tangan hingga kembali rapat tanpa celah.

Baca Juga  Misteri Hilangnya Bayi dalam Kandungan

***

Puncak malam purnama tiba saat Iwan bermalam di sebuah pondok kebun milik seorang sahabat yang telah beberapa bulan menghilang dan mengasingkan diri dari keramaian kota.

Sahabatnnya gagal menjadi anggota legislatif di daerah tersebut. “Alhamdulillah sekarang saya lebih tenang dan fokus di kebun,” kata Muis memulai kisah malam itu.

“Jalan hidup kita memang sudah digariskan Tuhan, kawan,” sahut Iwan yang memang akrab berteman dengan Muis sejak di bangku sekolah. “Sekarang kita jalani apa ada nya kehidupan ini dan lebih baik banyak banyak bersyukur atas nikmat kesehatan yang di berikan Allah SWT kepada kita,” sambung Iwan.

Hingga larut malam suasana hening masih menyelimuti perbincangan kami di antara deru dan desah binatang jalang yang setia menjamah perbincangan mereka malam itu.

Baca Juga  Sahabat yang Takingin Berpisah

Dari kejauhan lolongan anjing serasa tak seperti biasanya. Iwan dan Muis berpandangan terdiam.