Antu Berasuk
Aroma melati dan kenanga meyeruak menusuk hidung. Bulu bulu kuduk dua sahabat itu sontak serta merta berdiri.
Bayangan hitam mendekat pondok kebun. Suasana luar yang tadinya terang karena purnama kini menjadi gelap gulita.
Muis berdiri dan melangkah tepat di tiang teras pondok kebunnya. Ia langsung menarik tangan iwan untuk berlari menghindar dari bayangan yang mulai mendekat.
Iwan yang sudah sedari tadi ingin menutup pintu pondok diurungkan oleh tarikan tangan Muis. Mereka berlari ke arah pohon pohon penyapu padang yang memang masih banyak di daerah Pukang Merapin hingga ke Pantai Kubu.
Dengan sekali tebas tepat mengenai pohon seukuran jempol kaki orang dewasa dan secepat kilat muis membelah pohon tersebut hingga ke tanah. Tanpa mengulur waktu Muis dan Iwan pun bersembunyi di balik kayu yang terbelah.
“Inilah syarat nya saat kita menghindar dari Antu Berasuk yang hendak mendekati kita,” ujar Muis pelan. Memastikan bahwa makhluk tersebut bernama Antu berasuk.
Hingga suasana kembali semula baru lah Muis dan Iwan kembali ke pondok kebun. Segera Muis melingkari pondok kebunnya dengan cara menghamburkan garam dapur agar terhindar dari makhluk makhluk yang akan mendekati pondok.
Selain itu, gara juga bisa menghindari dari binatang binatang berbisa. Tapi memang secara nalar hal tersebut tak masuk di akal. Hanya masuk ke dalam kayu yang terbelah dan menutupnya kembali kita bisa terhindar dari antu berasuk yang hendak mendekati.
Bahkan kita tidak kelihatan di mata mahkluk hitam tinggi besar berbulu lebat tersebut. Sebagaimana namanya Antu berasuk adalah makhluk yang bermukim di tanah tanah Padang dan hutan hutan lebat.
Makhluk itu selalu membawa anjing pemburu untuk mengejar buruannya. Walahualam bissawaf, antara nyata dan gaib hanyalah terbatas tirai tipis yang tak mampu ditembus mata manusia. Itulah kuasa sang kuasa sekalian Alam.
