Namun realitasnya, sebagian birokrasi kita masih sering terjebak pada mental lama: merasa ingin dilayani, bukan melayani. Kantor pemerintah masih sering jadi tempat warga mengeluh karena merasa dipersulit, bukan ditolong. Padahal esensi kekuasaan bukanlah memerintah, tapi mengabdi.

Reformasi birokrasi yang sejati tidak hanya diukur dari tingginya jumlah aplikasi digital yang diluncurkan, tapi dari kehangatan pelayanan di meja depan, dari senyum tulus petugas yang membantu ibu-ibu mengurus surat, dari kesediaan ASN untuk turun langsung ke lapangan mencari solusi.

Mungkin sudah waktunya Pangkalpinang menjadi laboratorium etika pelayanan publik. Sebuah kota kecil yang mampu menunjukkan kepada Indonesia bahwa pemerintahan yang manusiawi masih mungkin ada.

Tentang Warga yang Cinta Kota, tapi Kadang Menyampaikannya dengan Marah

Ada hal yang unik dari Pangkalpinang: warganya punya cinta yang besar, tapi juga lidah yang tajam. Mereka cepat memuji, tapi juga cepat mencela.

Mereka bisa bersorak saat kota ini punya taman baru, tapi besoknya bisa mengolok-olok karena rumputnya kering. Atau warnanya yang berubah agak kusam. Tapi bukankah itu tanda cinta? Bukankah kritik pedas justru tanda bahwa mereka peduli? Mereka bukan apatis, mereka hanya ingin didengar.

Kita perlu mengubah energi kritik itu menjadi kolaborasi. Warga perlu diajak untuk ikut merawat kota ini, bukan hanya menuntut. Biarkan mereka menjadi bagian dari proses, karena kota yang dibangun bersama akan lebih tahan lama daripada kota yang dibangun dari atas menara kebijakan.

Baca Juga  Pekan Pengenalan Pondok Pesantren dan MPLS bagi Siswa Baru

Tentang Ekonomi dan Pasar yang Mulai Tergeser

Dalam tiga tahun terakhir, jaringan waralaba di Pangkalpinang melonjak dari 21 unit menjadi 171 unit. Pertumbuhan ini memang mencerminkan geliat ekonomi, tapi sekaligus pertanda bahwa ekonomi lokal sedang ditekan oleh sistem besar yang seragam. Bahkan mungkin dari pusat pemerintahan di Jakarta.

Pasar-pasar tradisional mulai sepi. Warung kecil di pinggir jalan kalah bersaing dengan minimarket berlampu terang. Di satu sisi, ini adalah konsekuensi modernisasi.

Tapi di sisi lain, kita perlu menyeimbangkan antara modal besar dan usaha rakyat kecil. Ingat pula bahwa rakyat sekedar berusaha untuk menyambung hidup, menghidupi dan membesarkan dan mendidik keluarga.

Mereka terkadang tak terlalu memikirkan membuat kapitalisasi yang sedemikian kuat menyedot ekonomi rakyat. Kita pun paham semestinya bagaimana ebih mendorong tumbuhnya usaha kecil dari dan untuk rakyat.

Mungkin sudah saatnya kota ini memiliki kebijakan afirmatif untuk UMKM lokal. Kita bisa memulai dengan hal sederhana: setiap acara pemerintah wajib menggunakan produk warga kota, setiap festival menampilkan kuliner dan kriya khas Pangkalpinang.

Tentang Simbol dan Kebanggaan

Pembangunan Masjid Agung Kubah Timah yang menelan biaya Rp64 miliar bukan hanya proyek fisik, tapi simbol spiritual bahwa kota ini masih punya harapan.

Baca Juga  Tari Kedidi, Gerak Khas Tari Bangka Belitung

Dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil, masjid itu kini menjadi ikon baru Pangkalpinang, tempat di mana doa dan desain bertemu. Belum lagi letaknya yang bersebelahan dengan Geraja Maranatha di titik nol kota Pangkalpinang. Menjadi symbol akan keakraban dan toleransi yang sudah sejak berabad lalu ada disini.

Namun, simbol-simbol itu akan kehilangan maknanya jika tidak diiringi dengan nilai. Taman-taman yang indah, trotoar yang tertata, tidak akan berarti jika hati warga tetap kering. Kota bukan hanya ruang, tapi rasa.

Dan rasa itulah yang harus terus dijaga: rasa memiliki, rasa ingin berbuat, rasa bangga menjadi warga Pangkalpinang.

Sahabatku Prof. Udin dan Cece Dessy,

Lima tahun ke depan tidak akan mudah. Tapi sejarah pribadi Prof sendiri sudah membuktikan, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tiga kali maju dalam pilkada, dua kali menelan pil pahit, tapi semangat Prof tidak pernah kendor. Kini kemenangan itu bukan hanya milik pribadi, tetapi milik semua warga yang percaya bahwa kerja keras dan keteguhan hati akhirnya akan menemukan jalannya.

Itulah teladan yang harus terus hidup di setiap kebijakan kalian: pantang menyerah, tidak mudah tersinggung oleh kritik, dan tidak goyah oleh cibiran.

Lihatlah bagaimana dulu Pak Zulkarnain Karim, walau sering disindir dan dikritik tajam, tetap tegar dan tersenyum. Ia memilih menjawab kritik dengan pelayanan, bukan dengan perdebatan. Ia mencari solusi, bukan pembenaran.

Baca Juga  Bipolar dan Mood Swing Itu berbeda

Maka kini giliran kalian berdua yang harus memimpin dengan hati, memandang kritik bukan sebagai serangan, tapi sebagai cermin. Karena Pangkalpinang tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, tapi yang tegas, sabar, dan mau mendengar.

Prof. Udin dan Cece Dessy,

Kota ini akan selalu hidup dari cinta warganya. Kadang cinta itu berwujud pujian, kadang berupa olok-olok. Kadang datang dalam bentuk satire di media sosial yang membuat dahi berkerut. Tapi percayalah, semua itu adalah ekspresi cinta yang belum menemukan cara terbaiknya untuk diucapkan. Tugas kalian bukan memadamkan kritik itu, melainkan menyalakan semangat di baliknya.

Bersabarlah menghadapi komentar yang nyinyir, kuatlah menahan hujatan, dan tetaplah berjalan di jalan yang lurus. Karena pada akhirnya, warga Pangkalpinang akan selalu mendukung pemimpin yang benar-benar mencintai kotanya, bukan dengan kata-kata, tapi dengan kerja yang nyata.

Maka tetaplah terus semangat, Prof dan Cece. Seperti semangat Prof yang tak pernah pudar meski dua kali jatuh di medan pilkada, tapi bangkit dan akhirnya menang di percobaan ketiga.

Jadikan semangat itu bahan bakar untuk lima tahun ke depan. Dan percayalah, selama kalian berdua bekerja dengan hati, Pangkalpinang akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi kota yang berdaya, beriman, dan membahagiakan.

Dengan rasa hormat dan kasih sahabat, Salam Takzim.