“Di Eropa Tengah, kekeringan yang meningkat telah memengaruhi hutan secara serius. Pohon-pohon lebih rentan dibanding tanaman semusim karena efek stres kumulatif dan proses pemulihan yang lambat,” ujar Dr. Martyna.

Ia juga menjelaskan bahwa kematian hutan tidak hanya disebabkan kekeringan, tetapi juga panas berlebih serta serangan patogen seperti kumbang kulit kayu dan jamur. Untuk itu, penelitian climate-resilient forestry atau kehutanan tangguh iklim menjadi penting guna menjadikan hutan lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Pendekatan penelitian dilakukan melalui pengamatan sistem akar pohon, sumber air yang digunakan, hingga simulasi kekeringan menggunakan atap buatan untuk memantau respons vegetasi terhadap stres air.

Baca Juga  HKM Karya Makmur akan Tanam 4.000 Pohon Kayu Putih di Parit 40 Matras