Leadership Inklusif dan Problem Solving Modern

Apa yang dilakukan Muhammad SAW adalah cerminan dari inclusive leadership dan collaborative problem solving yang hari ini banyak dibahas dalam teori manajemen modern. Beliau  tak membuat keputusan sepihak. Ia mengajak semua suku terlibat. Dalam manajemen, ini disebut participative decision making, di mana pemimpin melibatkan tim dalam menyelesaikan masalah, sehingga keputusan lebih diterima dan dieksekusi dengan baik.

Alih-alih memilih satu suku dan memicu konflik, beliau menciptakan solusi kreatif yang memungkinkan semua merasa bagian dari kemenangan. Ini disebut win-win solution dalam teori negosiasi. Dalam mengambil keputusan, Muhammad Saw tak tampil dominan. Ia mengarahkan, bukan mendikte.

Ia meletakkan dirinya sebagai fasilitator yang memediasi dan memudahkan terwujudnya solusi bersama. Kepercayaan masyarakat Quraisy bukan karena jabatan, tapi karena integritas pribadi. Ini sejalan dengan konsep moral authority dalam kepemimpinan, bahwa kepercayaan lebih kuat daripada kekuasaan.

Baca Juga  Rusip Khas Bangka Belitung: Cita Rasa Tradisional yang Melekat di Setiap Hidangan

Problem Solving dan Leadership Inklusif

Kisah ini adalah pelajaran bahwa menjadi muda tak berarti belum pantas dipercaya. Dalam usia yang relatif muda, Muhammad Saw menunjukkan bahwa kematangan bukan soal usia, tapi soal karakter.

Dalam riuh pertikaian, beliau hadir sebagai penenang. Dalam pusaran ego, beliau hadir sebagai jembatan hati. Dan dari sinilah kepemimpinan kenabian mulai terlihat sinarnya. Bukan karena kekuasaan, tetapi karena kepercayaan.

“Pemimpin sejati bukan yang berdiri paling tinggi, tetapi yang mampu membuat semua orang merasa dihargai.”