317 Kota Toboali: Rindu Kearifan Ibu
Warung-warung kecil di sudut kampung yang menjual jajanan dibungkus daun pisang atau daun kelapa: lemper, kue bugis, bongkol, ketupat. Atau wadah daun himpur untuk Lakso. Gelas kaca berjejer di meja, diisi ulang dari teko besar yang dingin. Alam menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar latar belakang. Mereka hidup dalam prinsip 3R — reduce, reuse, recycle — jauh sebelum istilah itu tertulis di papan sosialisasi.
Sekarang, banyak yang berubah. Hajatan pindah ke gedung, panggung dibuat dari besi, dan piring digantikan wadah sekali pakai. Warung-warung kini dibanjiri plastik bening, sedotan warna-warni, dan botol yang hanya sekali pakai. Modernitas membawa kemudahan, tapi juga meninggalkan jejak panjang di sungai, di parit, dan di laut kita.
Peringatan 317 tahun ini harus menjadi waktu untuk menengok kembali, bukan sekadar bernostalgia, tapi belajar dari kebijaksanaan masa lalu. Kita tidak bisa kembali ke masa lampau, tetapi kita bisa mengadopsi kearifannya. Di tengah arus kemajuan ini, kita perlu menengok sebentar ke belakang — untuk menuntun zaman agar tetap berpihak pada bumi.
Sebagai Kepala Bidang Persampahan, saya percaya bahwa solusi atas tantangan hari ini memerlukan semangat kebersamaan yang dulu ada. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha serta masyarakat umum agar Toboali tidak hanya maju, tapi juga bersih.
Selamat ulang tahun, Kota Toboaliku tercinta. Mari kita hidupkan kembali kearifan ibu dalam langkah nyata: membawa tas belanja sendiri seperti ibu kita dulu, memilah sampah dari rumah, dan meminimalisir wadah sekali pakai — demi jejak yang pantas dirindukan oleh generasi mendatang.
Saya meyakini bahwa perubahan besar untuk lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil masyarakat.
