Oleh: Randi Syafutra — Mahasiswa S3 PSL IPB University/Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Ada satu tanggal yang selalu dipoles rapi setiap tahun: 17 Agustus. Dari layar televisi sampai gang-gang sempit di perkampungan, kita diingatkan untuk berdiri tegak, menyanyikan lagu kebangsaan dengan suara serak-serak basah nasionalisme. Sang Merah Putih berkibar, anggun dan gagah. Kita bertepuk tangan, kita tersenyum, kita merasa… merdeka.

Tapi tahun ini ada yang berbeda. Di antara kain merah putih yang menari di udara, muncul kain lain: hitam dengan tengkorak bertopi jerami. Jolly Roger. Lambang bajak laut fiksi dari One Piece, yang entah bagaimana bisa lolos dari dunia anime dan mendarat di tiang-tiang bambu kampung kita.

Baca Juga  HUT Sungailiat: Bukan Soal Meriah, Tapi Soal Arah

Sebagian orang mungkin tertawa, “Ah, cuma budaya pop, anak-anak lagi kecanduan kartun Jepang.” Tapi dengarkan baik-baik. Ada Riki di Kebayoran, ada Rian di Depok, yang berkata: “Ini bukan main-main. Ini tanda protes.” Mereka tidak sedang bermain cosplay. Mereka sedang menggantungkan kekecewaan pada sepotong kain.

Dan kalau mau jujur, kekecewaan itu tidak salah alamat. Apa arti merdeka, kalau tiap hari masih harus bayar mahal untuk hidup di tanah yang katanya subur makmur? Apa arti merdeka, kalau jadi buruh berarti kerja seumur hidup tanpa jaminan, tanpa kepastian, dan kadang tanpa suara? Apa arti merdeka, kalau aparat lebih sibuk membungkam kritik ketimbang memperbaiki layanan publik?

Baca Juga  Peningkatan Fasilitas Ruang Kelas untuk Ciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif

Indonesia, katanya, kaya raya. Gunungnya emas, lautnya ikan, hutannya hijau. Tapi di balik kemewahan itu ada paradoks: semakin kaya negeri ini, semakin miskin orang-orang yang hidup di dalamnya. Emas di Papua tidak membuat orang Papua sejahtera. Batu bara di Kalimantan tidak membuat anak-anak Kalimantan aman dari lubang tambang yang menelan nyawa. Sawit di Sumatera tidak membuat petaninya merdeka dari utang.

Lalu, apa bedanya Kaido di Wano dengan para penguasa yang memonopoli sumber daya kita? Kaido menjarah Wano, membangun pabrik, memperbudak rakyat, merampas tanah, dan membungkam suara. Di sini, kita melihat wajah yang mirip. Bedanya, Kaido hanya ada di manga. Sementara kita harus hidup bersama “Kaido” versi nyata.

Baca Juga  3 Juli 2025: Saatnya Bangka Belitung Bebas Kantong Plastik

Jadi, jangan buru-buru menuding orang yang mengibarkan bendera bajak laut sebagai pengkhianat bangsa. Mereka tidak sedang mengkhianati merah putih. Mereka justru sedang berkata, dengan bahasa yang berbeda: “Hei, Merah Putih! Jangan hanya berkibar di tiang, berkibarlah juga di perut kami, di sekolah anak-anak kami, di rumah sakit, di harga beras, di jaminan kerja.”