Merdeka, Tapi Tidak Merdeka
Apakah nasionalisme itu cuma soal berdiri tegak di lapangan upacara? Nasionalisme yang kosong seperti itu hanya bikin dada membengkak sebentar, lalu kempes saat kita pulang dan berhadapan lagi dengan listrik yang naik, harga pangan yang mencekik, atau gaji yang tak cukup sebulan. Nasionalisme yang sejati bukan di mulut, tapi di dapur rakyat.
Mungkin pemerintah merasa tersinggung, lalu menyebut pengibaran Jolly Roger sebagai ancaman. Pertanyaan sederhana: ancaman bagi siapa? Bagi rakyat, atau bagi mereka yang sedang nyaman dengan kekuasaan?
Kalau negara serius, jawabannya jelas: dengarkan rakyat. Jangan buru-buru mengancam pidana. Jangan buru-buru menyamakan protes dengan makar. Karena demokrasi tanpa kritik hanyalah panggung kosong dengan aktor-aktor yang pura-pura.
Dan di sini, saya ingin menutup dengan Luffy. Bukan karena saya fans garis keras One Piece, tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang seharusnya jadi teladan. Luffy tidak pernah haus kekuasaan. Ia hanya ingin membebaskan. Ia melawan Kaido bukan untuk jadi penguasa baru, tapi untuk membebaskan Wano agar rakyat bisa bernapas lagi. Indonesia butuh lebih banyak Luffy. Bukan lebih banyak Kaido.
Merdeka yang ke-80 ini seharusnya jadi cermin. Pertanyaannya bukan sekadar: sudahkah kita merdeka? Pertanyaan yang lebih jujur: siapa yang sebenarnya merdeka? Apakah petani di Sumatera sudah merdeka? Apakah buruh garmen di Subang sudah merdeka? Apakah anak-anak di Papua sudah merdeka?
Mungkin jawabannya pahit. Tapi justru di situlah kita harus berani menelan kebenaran. Kalau tidak, kita hanya merayakan ulang tahun dengan kembang api dan lomba balap karung, tanpa sadar bahwa “kemerdekaan” kita sudah lama jadi bahan dagangan.
Merdeka? Belum.
