HUT Sungailiat: Bukan Soal Meriah, Tapi Soal Arah
Oleh: Yan Megawandi
Pada tanggal 27 April nanti, Kota Sungailiat akan genap berusia 259 tahun. Kota yang menjadi ibu kota Kabupaten Bangka ini kembali menandai satu siklus waktu dalam sejarah panjangnya. Namun HUT ke-259 kali ini dipastikan berlangsung sederhana.
Tak ada pesta rakyat, tak ada kembang api. Pj. Sekda Bangka, Thony Marza, menyebutkan bahwa rangkaian peringatan hanya berupa sidang paripurna dan tablig akbar. Sederhana memang. Tapi apa yang penting?
Ulang tahun, sejatinya bukan semata ajang seremonial. Ia semestinya menjadi momen kontemplatif, layaknya seperti sejenak menoleh ke belakang, menatap ke depan.
Menyusun catatan kecil tentang apa yang sudah, sedang, dan akan dihadapi oleh kota yang kita tinggali dan cintai ini. Sungailiat bukan hanya soal berumur tua, tapi juga soal kualitas hidup warga, wajah kota, dan masa depan ruang yang kita bagi bersama.
Di Balik Kota yang Tumbuh Tapi Tak Tertata
Mari jujur sejenak. Kota ini, dari tahun ke tahun, tampak tumbuh. Tapi pertumbuhannya seperti anak yang tumbuh tinggi tanpa gizi cukup. Tumbuh, tapi rapuh. Tengoklah bagaimana pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan harian.
Setiap pagi, aroma tak sedap menari di udara dari tumpukan tak terangkut. Padahal, soal sampah ini bukan cuma urusan Dinas Kebersihan. Ia cermin kesadaran kolektif yang biasanya juga harus direkayasa agar menjadi budaya
Kawasan pemukiman pun berkembang liar. Rumah-rumah menjamur, seringkali tanpa perencanaan matang. Tidak ada ruang hijau yang menyegarkan pandang. Kecuali, di hutan kota yang jadi kebanggaan sejak lama itu.
Kota ini terasa makin panas, makin sesak. Bila tak percaya, boleh sekali-sekali berjalan kaki di Jalan Sudirman. Tak terasa naungan pohon. Jumlahnya menyusut drastis. Bukannya ada penanaman pohon, justru dari hari ke hari semakin berkurang jumlah pohon karena ditebang dengan mudah entah dengan alasan apa.
Bahkan sempat terlintas di pikiran, apakah penebangan pohon ini diberikan insentif oleh APBD sehingga begitu rajinnya penebangan dilakukan.
Pasar? Jangan tanya. Padat, semrawut, dan jauh dari kata tertata. Padahal pasar adalah wajah ekonomi rakyat, tempat interaksi harian yang membentuk denyut kota. Tapi mengapa wajah itu tampak kusam dan lelah?
Kesempatan yang Muncul dari Kekosongan
Pilkada ulang yang akan datang, pascakemenangan kotak kosong sebelumnya, menjadi lembar baru. Banyak calon mulai bermunculan. Baliho-baliho besar mulai didirikan, gosip dan cerita mulai disebarkan.
Sebuah momentum yang semestinya tak sekadar dirayakan dalam baliho dan jargon, tetapi sebagai kesempatan emas menyusun ulang mimpi pengembangan kabupaten Bangka dan Kota Sungailiat ini.
Ini saatnya kita bertanya: bagaimana para calon kepala daerah melihat Sungailiat? Apakah mereka memiliki rencana yang konkret untuk menata kota ini dengan sentuhan peradaban? Atau sekadar menjanjikan perubahan yang tak lebih dari gincu pada luka lama?
Banyak calon mulai bermunculan, tapi yang lebih penting dari siapa calonnya adalah: bagaimana isi kepalanya? bagaimana komitmennya? bagaimana rekam jejaknya?
Momentum peringatan hari jadi Kota Sungailiat kali ini terlalu mahal jika hanya dihabiskan untuk parade baliho, senyum satu jari, dua jari atau malah sepuluh jari, atau janji yang semanis madu tapi serapuh kemplang Belinyu.
Kota Sungailiat tak lagi butuh mimpi-mimpi yang klise, tapi butuh peta jalan: detail, masuk akal, dan bisa dikerjakan. Jangan lupa pula itu merupakan solusi buat masyarakat, bukan hanya buat yang memimpin.
Apakah para calon kepala daerah benar-benar ‘melihat’ Sungailiat? Bukan sekadar ‘melirik’ untuk kampanye, tapi melihat dengan hati dan akal sehat.
Kota ini perlu disentuh dengan peradaban dan perhatian yang penuh kecintaan, bukan semata hanya pembangunan fisik. Selama ini banyak angan dan harapan yang tumbuh di benak warga. Salah satunya adalah jangan sampai Kota Sungailiat menjadi kampung besar yang tidak tertata.
Kita semua ingin agar seorang bupati dan jajarannya nanti mencoba dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan Sungailiat sebagai kota kecil yang tumbuh menjadi kota cerdas dan mampu menjadi tempat tinggal warga yang menyenangkan dan dirindukan ketika pergi meninggalkannya.
Sebagai warga, saya pikir setidaknya ada beberapa hal yang rasanya ke depan perlu mendapatkan perhatian dari para calon bupati dan calon wakil bupati Bangka terkait kota Sungailiat, yang memang masih perlu dielaborasi lagi datanya.
Rencana Tata Kota yang Tegas dan Hijau
Pemukiman yang menjamur di Sungailiat tumbuh tanpa arah, yang semestinya lebih bisa dikendalikan dengan baik. Tidak seperti saat ini. Terkesan pemerintah daerahlah yang harus mengikuti keinginan pengembang perumahan, seolah menegaskan sarkasme “tatar uang, bukan tata ruang” adalah benar.
Mereka bisa membangun di mana saja dan kapan saja. Termasuk di kawasan-kawasan yang semestinya menjadi daerah resapan air, tapi diuruk dengan semena-mena.
Atau pembangunan banyak kawasan pemukiman yang tak didahului dengan perencanaan yang matang untuk akses jalan publik, pengelolaan sampah dan air limbah, sanitasi dan drainase.
Bagaimana pula pengaturan antisipasi sarana dan prasarana lalu lintas agar tak menimbulkan kekisruhan dan biaya yang membengkak di masa depan.
Kecepatan pembangunan memang menjadi harapan bersama kita semua, tetapi selayaknya itu bisa dilakukan dengan lebih terarah. Tak terkesan terburu-buru, asal-asalan bahkan ini yang gawat: brutal!
Itu semua mestinya bisa dikendalikan atau setidaknya dikurangi. Tata ruang perlu dikaji ulang secara menyeluruh, dengan zonasi yang ketat dan berpihak pada lingkungan. Ruang Terbuka Hijau (RTH) bukanlah pelengkap penderita, tapi itu adalah kebutuhan ekologis dan psikologis warga.
Sekali lagi hal-hal itu mesti dilakukan bila kita tak ingin mewariskan kota yang panas, gersang, sesak, dan penuh konflik ruang. Sungailiat akan jadi kota tanpa jati diri, bukan kota kehidupan. Belum cukupkah kerusakan ekologi yang dipertontonkan di sekitar pulau kita, di laut, hutan, rawa, dan sungai yang merana karena penambangan yang seolah-olah dibiarkan membabi buta.
Reformasi Sistem Pengelolaan Sampah
Sampah adalah masalah urban yang nyata, yang walaupun tak ingin dilihat, tapi akan selalu ada. Sistem pengelolaan sampah yang berbasis partisipasi warga, teknologi ramah lingkungan, dan edukasi yang konsisten menjadi formula yang harus diolah sebuah kota.
Sampah bukan sekadar kotoran, tapi indikator peradaban. Jika tidak terkelola, kota ini akan terus dikepung aroma busuk dan citra kotor, merusak daya hidup warga, kesehatan, pariwisata, dan bahkan rasa bangga terhadap kota sendiri.
Lihatlah Kabupaten Banyumas yang menjadi salah satu daerah pengelola sampah terbaik saat ini. Mereka bisa melakukan pengelolaan sampah melalui program Sumpah Beruang: Sulap Sampah Berubah Uang, yang fokus pada pemilahan, pengolahan, dan pendaurulangan sampah.
Program ini melibatkan masyarakat dalam pemilahan sampah, memanfaatkan teknologi seperti aplikasi Salinmas dan Jeknyong, serta pendirian Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang dilengkapi mesin pemilah dan pengolah sampah. Sampah yang diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk kompos, paving, genteng, dan biji plastik.
