Dengan caranya itu, mereka di Banyumas telah berhasil mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi sangat kecil. Bayangkan saja dengan model pengelolaan yang ada, maka proporsi sampah yang dibuang ke TPA hanya tinggal sekitar 9%. Inovasi dan keberhasilan Banyumas dalam pengelolaan sampah telah menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dan bahkan di luar negeri, termasuk di Bangkok, Thailand.

Rasanya boleh saja hari ini kita mulai bermimpi dan akhirnya bertekad untuk mampu melakukan hal yang mirip. Mungkin ada saja yang menyatakan bahwa masalah dana akan membuat tidak mungkinnya mimpi tadi terwujud.

Dana memang dibutuhkan tetapi kita juga lebih memerlukan pemimpin yang benar-benar punya tekad kuat dan cerdas membantu dan melayani rakyatnya, sehingga tercipta strategi penanganan masalah sampah yang inovatif dan efektif.

Penataan Pasar Tradisional

Di awal tahun 90-an sampai tahun 2000-an, Pasar Sungailiat adalah salah satu itinerary yang sering ditawarkan kepada para wisatawan yang datang. Tidak terlalu sesak, masih memperlihatkan ciri pasar tradisional yang tetap punya daya tarik dan ciri khas. Entahlah kalau sekarang.

Siapa yang akan berani mengajak tamunya berbelanja ke pasar terbesar di Sungailiat itu. Terakhir pasar itu dipugar dengan dana bantuan provinsi sekitar tahun 2016/2017. Setelah itu tak banyak perbaikan berarti yang menyebabkan kesan semrawut, tak tertata dan terasa kurang diperhatikan.

Pasar bukan sekadar tempat jual beli, tapi denyut ekonomi rakyat. Bahkan ia dapat menjadi etalase budaya dan nilai hidup warga lokal. Pasar memerlukan penataan yang manusiawi, fungsional, dan bersih, dengan tetap menjaga karakter tradisionalnya.

Kelalaian dalam mengelola dan membangun pasar akan menyebabkan pasar kehilangan kepercayaan publik, dan pelan-pelan ditinggalkan demi minimarket dan toko daring. Maraknya pendirian mini market jaringan waralaba yang saat ini terjadi adalah bukti bahwa pasar tradisional berkurang daya pikatnya.

Baca Juga  Di Tepi Samudera Kebenaran: Menakar Reputasi dalam Timbangan Ilahi

Lihatlah bagaimana pergeseran pola belanja yang terjadi saat ini. Semua akan semakin meninggalkan pasar tradisonal bila tidak ditata dengan baik dan menarik.

Pengembangan pasar-pasar lainnya di seputar kawasan-kawasan pemukiman juga dipandang perlu untuk menyebarkan keramaian dan pemerataan pengembangan kawasan ekonomi masyarakat.

Lihatlah inisiatif yang dikembangkan oleh seorang pengusaha beberapa tahun silam. Ia mendirikan pasar higenis yang terletak di dekat kawasan pengembangan pemukiman baru. Pasar ini berhasil menarik pengunjung di sekitar yang memberi nafas baru ekonomi lokal.

Lalu bagaimana nasib Pasar Inpres di kawasan Jalan Sam Ratulangi atau Singkay yang dibangun oleh pemerintah daerah, atau nasib pasar di Simpang Pemali yang juga dibangun dengan dana APBD? Mereka meredup dan segan hidup.

Menjamurnya kawasan pertokoan ke arah Jalan Muhidin atau Kuday seakan meninggalkan keberadaan kawasan Pasar Atas dan Pasar Bawah, dan menimbulkan kepadatan lalu lintas yang mengganggu. Demikian pula dengan berdirinya pertokoan di Kawasan Air Ruay yang merupakan pengembangan kota yang mestinya juga diikuti dengan antisipasi penataan infrastruktur kawasan baru.

Inovasi Pelayanan Publik

Penggunaan teknologi informasi dapat membuat layanan pemerintah lebih cepat, murah, dan transparan. Digitalisasi bukan gaya-gayaan, tapi kewajiban di era ini.

Pengembangan digitalisasi merupakan hal yang harus jadi perhatian karena jika tidak, masyarakat akan semakin malas berurusan dengan birokrasi dan membuat jarak antara warga dan pemerintah melebar.

Sejatinya, pelayanan merupakan tugas dasar pemerintah. Namun masih banyak aparatur pemerintahan yang tak terlalu paham esensi dari pelayanan, yaitu membantu orang lain sampai ia puas.

Baca Juga  Pilkada Ulang di Bangka Belitung: Momentum Mengembalikan Kepercayaan Publik

Bila esensi ini sudah menjadi nilai dasar bagi para ASN, maka digitalisasi dapat menjadi alat yang memudahkan proses pelayanan.

Saat ini memang sudah ada Mall Pelayanan yang dikembangkan di Sungailiat. Tapi yakinlah bahwa masyarakat akan menuntut pelayanan yang lebih baik ke depan, karena lingkungan dan perkembangan kehidupan juga akan memunculkan kebutuhan pelayanan yang juga bertambah.

Antisipasi hal-hal di atas rasanya penting disiapkan. Lihatlah bagaimana Banyuwangi yang mendorong program Smart Kampung dengan menjadikan balai desa sebagai pusat segala jenis pelayanan, termasuk pelayanan digital. Entah kapan kita akan begitu.

Dialog Publik Berkala

Mungkinkah akan ada forum rutin antara pemimpin dan warga di Sungailiat? Dengarkanlah suara rakyat secara berkala, bukan hanya menjelang pemilu. Ini bukan populisme, ini dasar demokrasi.

Masyarakat akan merasa lebih didengarkan serta dihargai, dan itu dapat memunculkan tumbuhnya partisipasi. Dulu ada pejabat seperti mendiang Tarmizi Saat yang sangat rajin mendengarkan keluhan dan permintaan serta saran dari masyarakat di RRI Sungailiat.

Bahkan ia membagikan radio agar lebih banyak orang yang bisa ikut bergabung di acara tersebut. Kalau tak salah programnya berjudul “Agenda dan Informasi” yang disiarkan setiap pagi. Tarmizi, baik dalam posisi sebagai sekda ataupun ketika telah menjadi bupati, pun ikut aktif di acara tersebut.

Ketersambungan antara rakyat dan pemimpin itu amat penting supaya selalu berada dalam satu gelombang yang sama dalam membangun daerah.

Bila tidak yang terjadi ialah pejabat hanya akan sibuk dengan persepsi, bukan realita. Warga akan merasa ditinggalkan dan hanya dianggap angka dalam TPS.

Untuk itu, perlu ada ruang publik yang membuka ruang debat terbuka, forum yang bukan ajang saling serang, tapi saling buka pikiran. Bukan debat basa-basi, tapi debat yang membedah visi, ide, dan cara pandang terhadap Kota Sungailiat. Ini penting agar masyarakat tidak membeli kucing dalam karung.

Baca Juga  Transformasi Perpustakaan: Dari Gedung ke Genggaman

Perguruan tinggi, lembaga swadaya, organisasi kepemudaan, dan siapapun yang peduli serta cukup waras bisa jadi penyelenggaranya. Yang penting: netral, jujur, dan tak punya agenda pribadi lain di belakang.

Dalam forum semacam inilah, kita bisa tahu siapa yang sekadar ingin berkuasa, dan siapa yang sungguh-sungguh punya kapasitas.

Jika semua ini tidak dilakukan, maka pilkada hanya akan jadi pengulangan: memilih, kecewa, marah, lalu apatis. Kita akan terjebak dalam siklus pemimpin yang datang tanpa rencana, memerintah tanpa visi, dan pergi tanpa jejak berarti.

Tidak penting apakah HUT Sungailiat tahun ini meriah atau tidak. Yang kita ingin adalah kota ini menuju kematangan, bukan malah mundur atau jalan di tempat.

Setiap tahun adalah cermin, dan pada ulang tahun ke-259 ini, semoga kita semua cukup jernih untuk berkaca, dan cukup berani untuk memperbaiki. Kota ini milik kita semua. Mari merayakan bukan dengan sorak-sorai, tapi dengan tanya dan tindakan: sungguh, kota seperti apa yang kita mau wariskan?

Dulu Kota Sungailiat pernah punya slogan BERTEMAN: Bersih, Tertib, dan Aman. Slogan yang terkesan sederhana yang di buat oleh R. Hariono, Bupati Bangka saat itu, tapi rasanya tetap menjadi kebutuhan kita bersama hari ini.

Slogannya bagus, hanya kita warganya yang mungkin lupa menjaga kotanya agar bersih, tertib, dan aman. Jangan lupa: Sungailiat butuh lebih dari sekadar kepala daerah, ia butuh arsitek untuk masa depan warganya. Salam takzim.

Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.