Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD

Dalam keriuhan era digital, reputasi sering kali dianggap sebagai mata uang yang paling berharga. Manusia modern berlomba-lomba memoles citra, membangun narasi kehebatan, dan menjaga “wajah” di depan publik. Namun, jika kita menyelami perspektif agama dan merenungkan kata-kata sang jenius Isaac Newton, kita akan menemukan sebuah paradoks: bahwa reputasi yang paling kokoh justru lahir dari mereka yang paling sedikit memedulikannya di hadapan manusia.

Reputasi: Bayangan yang Sering Menipu

Isaac Newton pernah berujar dengan penuh kerendahhatian, “Aku tidak tahu bagaimana dunia memandangku; tetapi bagiku aku hanyalah seperti anak kecil yang bermain di tepi pantai… sedangkan samudera besar kebenaran itu tetap tak terungkap di hadapanku.”
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi intelektual. Newton sedang menunjukkan sebuah posisi teologis yang sangat dalam: bahwa reputasi manusia hanyalah “tepi pantai” yang dangkal, sementara esensi kebenaran adalah “samudera” yang luas milik Sang Pencipta. Dalam perspektif Islam, fenomena ini berkaitan erat dengan perbedaan antara Zhahir (apa yang tampak) dan Bathin (apa yang tersembunyi).
Reputasi sering kali hanyalah Zhahir—sebuah persepsi publik yang bisa dimanipulasi. Namun, agama menekankan bahwa integritas batin adalah segalanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Baca Juga  Jangan Jadikan Kampus sebagai Pabrik Robot Berijazah

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa “reputasi” sejati bukan ditentukan oleh pengikut di media sosial atau pengakuan akademis, melainkan oleh posisi seseorang di sisi Allah. Pangkat dan pujian manusia sering kali hanyalah residu duniawi yang tidak memiliki bobot dalam timbangan akhir.

Jebakan “Riya” dan Pemujaan Diri

Argumen utama yang menentang pengejaran reputasi secara berlebihan adalah bahaya Riya (pamer). Ketika seseorang melakukan sesuatu hanya agar dipandang baik oleh orang lain, ia sebenarnya sedang membangun istana pasir yang akan hancur diterjang ombak. Rasulullah SAW memperingatkan dalam sebuah hadits:

Baca Juga  Gaya Hidup Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19