Memetik Makna di Balik Perjalanan Semalam: Refleksi Isra Mikraj di Era Digital

​Oleh: Dr. (H.C.) H. Muhammad Gofi Kurniawan, Lc., S.QI., C.MA. — Pimpinan Ma’had Daarul Iman Desa Kimak, Bangka

Setiap tahun, umat Islam memperingati Isra Mikraj sebagai sebuah peristiwa agung yang melampaui batas nalar manusia. Perjalanan horizontal Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang dilanjutkan dengan perjalanan vertikal menuju Sidratul Muntaha, bukan sekadar riwayat tentang keajaiban ruang dan waktu. Di balik peristiwa tersebut, tersimpan pesan-pesan universal yang sangat relevan untuk menjadi kompas kehidupan kita saat ini.

Kesadaran akan Keterbatasan Nalar

​Isra Mikraj adalah pengingat bahwa di atas logika manusia, ada ketetapan Sang Pencipta.
Di era digital di mana semua hal dituntut serba rasional dan terukur, peristiwa ini mengajak kita untuk merawat “iman”. Bahwa tidak semua hal di alam semesta ini bisa dipenjarakan dalam rumus matematika atau logika hitam-putih. Ada dimensi spiritual yang harus kita yakini agar hidup tidak terasa gersang dan mekanis.

Baca Juga  Bagaimana Peran UU dalam Melindungi Pekerja Perempuan di Era Digital?

​Salat sebagai Mi’raj Spiritual

​Buah tangan terpenting dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah shalat lima waktu. Jika Rasulullah melakukan “Mi’raj” secara fisik dan ruhani untuk menghadap Allah, maka salat adalah sarana bagi setiap Muslim untuk melakukan “Mi’raj” secara spiritual setiap harinya.
​Salat adalah momen jeda.