Terbaru ada dokter muda RSUD Bangka Selatan, Fatturachman yang aktif menulis sejak di bangku SMA hingga saat ini. Tak lupa pula ada Toni Pratama, penulis novel Cinta di Bawah Tudung Saji yang diterbitkan Gramedia Grup.

Bangka Selatan merupakan satu-satunya kabupaten di Bangka Belitung yang ditunjuk Perpusnas untuk menggelar kegiatan tersebut.

Organisasi kepemudaan seperti GP Ansor Cabang Kabupaten Bangka Selatan yang dinakhodai Findra, tidak ketinggalan untuk ikut menyalakan obor literasi di Bangka Selatan dengan kegiatan Sekolah Jurnalistiknya.

Demikian pula dukungan dari tokoh-tokoh literasi Basel, seperti Datuk Kulul, Pamong Budaya Dwikki Dhaswara hingga Ketua PWI Bangka Selatan Dedy Irawan yang melahirkan penulis buku Khoiriyah Apriza saat masih di bangku SMAN 1 Air Gegas. Ada Yul Haidir.

Ketua PWI Bangka Selatan juga dikenal sebagai bidan pelahir penulis-penulis muda hingga membuka ruang sastra di media massa yang dinakhodainya. Tidak heran bila tiap pekan selalu hadir karya para penulis muda yang mengirimkan karyanya ke media yang ia pimpin

Baca Juga  Aniaya Warga Pakai Pisau, Pria di Desa Gudang Diciduk Polisi

Para pegiat literasi Bangka Selatan ini saling bahu-membahu membangun kebermajuan gerakan literasi di Bangka Selatan.

Tentunya support dari birokrat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, yang selalu membantu dan peduli dengan kebermajuan gerakan literasi di Bangka Selatan. Sebut saja Eko, yang selalu kalang kabut menyiapkan kegiatan. Ada Suhardi (alm). Ada Kabid Perpustakaan dan layanan. Tentunya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

Mereka menghidupi literasi. Menyalakan obor literasi di Negeri Junjung Behaoh dengan segala dinamika yang dialami. Bukan mencari panggung. Tapi memberikan panggung untuk para penulis muda berkreasi dan berkarya sehingga dunia kepenulisan daerah ini sejajar dengan penulis daerah lainnya di panggung literasi Nusantara.

Baca Juga  Pulau Kelapan, Surga Snorkling di Bangka Belitung

“Kalau bukan kite, sape agik.” adalah narasi yang menjadi kekuatan bagi mereka, para pegiat literasi Bangka Selatan untuk mensupport kegiatan yang tidak populer dan nirlaba ini.

Tentunya ada dukungan dari tokoh literasi nasional seperti Gola Gong dan Mas Harry Tjahjono yang ikut mensupport gerakan literasi di Toboali Bangka Selatan.

Alhamdulillah, Kang Gola Gong Duta Baca Indonesia, kalau ke Bangka, pasti berkunjung ke Toboali walaupun tidak punya agenda kegiatan.

Pendiri Komunitas Rumah Dunia Serang ini pasti bikin kegiatan literasi dadakan dan nirlaba. Berbagi, berdiskusi dan memberikan support serta dukungan untuk para penulis Bangka Selatan.

Mareka semua adalah bagian penting dari kebermajuan gerakan literasi Bangka Selatan. Bekerja dengan ikhlas penuh pengabdian untuk kemajuan Gerakan Literasi Bangka Selatan.

Baca Juga  Ternyata Begini Modus Cucu Pengusaha Timah di Toboali Setubuhi Anak di Bawah Umur

Tuntutan moral dan tanggung jawab sosial sebagai warga daerah untuk ikut menggelorakan gerakan literasi kepada generasi muda, pewaris masa depan bangsa untuk mencintai literasi menjadi tekad untuk terus mengembangkan budaya literasi ke pelosok jiwa warga Bangka Selatan.

Kalau para tokoh dan pegiat literasi Indonesia tahu akar geliat literasi di Toboali Bangka Selatan, penulis meyakini bahwa mareka akan memberikan acungan 10 jempol.

Mulai dari jempol kaki hingga tangan. Bahkan kalau perlu meminjam kaki dan jempol orang lain untuk memberikan acungan jempol kepada dunia literasi Bangka Selatan.

Salam literasi dari Toboali Bangka Selatan.