Pengalaman ini membuka mata bahwa dunia hukum sedang berubah menuju era digital. Bagi kami, kemampuan adaptif terhadap sistem semacam ini menjadi keharusan, karena masa depan profesi hukum akan sangat bergantung pada teknologi.

Namun, bukan berarti pengalaman magang ini bebas tantangan. Ada saat-saat di mana kami merasa canggung, takut berbuat salah, atau sekadar bingung menyesuaikan diri dengan ritme kerja lembaga peradilan.

Tapi di situlah nilai belajar sebenarnya dimana berani mencoba, mendengarkan, dan memperbaiki diri. Kami belajar bahwa bekerja di ranah hukum berarti selalu siap belajar dari pengalaman, karena setiap perkara membawa pelajaran baru.

Yang paling menarik, kegiatan magang ini membuat kami memahami bahwa pengadilan bukan sekadar tempat mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan ruang untuk menemukan keadilan yang manusiawi.

Baca Juga  Gubernur Hidayat Arsani Ingatkan Sekolah Jangan Pungut Iuran ke Siswa

Hukum ternyata tidak selalu hitam-putih. Ada pertimbangan moral, sosial, bahkan psikologis yang ikut mewarnai setiap putusan. Pengalaman mendengar hakim menjelaskan putusan dengan bahasa sederhana kepada para pihak memberi kesan mendalam bahwa keadilan sejati harus bisa dipahami dan dirasakan semua orang, bukan hanya para ahli hukum.

Melalui bimbingan dari para hakim di Pengadilan Agama, kami juga diarahkan untuk mengamati bagaimana cara mengumpulkan dan menganalisis data dalam pembuktian pada perkara yang sedang disidangkan.

Kegiatan ini bukan sekadar tugas administratif, tetapi latihan berpikir kritis. Kami diminta mengaitkan praktik yang kami lihat dengan teori yang dipelajari di kampus sebagai sebuah upaya menjembatani dunia akademik dengan dunia kerja hukum yang sesungguhnya. Dari situ kami belajar bahwa teori hukum tidak pernah mati; ia justru menemukan maknanya ketika diterapkan dalam kehidupan nyata.

Baca Juga  Waduh! Para Karyawan PT Timah Tes Urine Oleh BNN Pangkalpinang

Magang di Pengadilan Agama Pangkalpinang akhirnya menjadi pengalaman yang jauh lebih dari sekadar formalitas SKS (Satuan Kredit Semester). Ia mengubah cara pandang kami terhadap profesi hukum. Jika dulu kami berpikir hukum adalah tentang banyaknya pasal saja, kini kami tahu bahwa hukum juga tentang manusia, konflik, dan upaya mencari keadilan dengan cara yang beradab.

Dengan dijalankan nya program KLK skema Magang ini, memperlihatkan betapa pentingnya sinergi antara kampus dan lembaga hukum. Kampus memberi dasar teori dan etika, sementara lembaga praktik peradilan memberi realitas dan pengalaman. Ketika keduanya bertemu, lahirlah calon sarjana hukum yang bukan hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga tangguh dan berintegritas di lapangan.

Baca Juga  Berbagi Berkah Ramadhan, PT Timah Tbk Bagikan 14.400 Paket Sembako

Pada akhirnya, pengalaman magang ini mengajarkan satu hal penting dimana menjadi bagian dari dunia hukum berarti siap melayani keadilan. Dan keadilan itu, sebagaimana kami lihat di Pengadilan Agama Pangkalpinang, tidak pernah hadir dengan mudah tetapi selalu layak diperjuangkan dalam memperoleh perdamaian.

*Penulis: Dzulfah Mawaddah, Asa Diamon, Laura Aulia Rosaline, Zaki Ardiansyah – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung