Sesaat dalam perjalanan pulang menuju rumah yang berada di Toboali, Pak Ibnu melewati sebuah gudang beras.

Saat melintas jembatan yang di aliran Sungai, sontak sepeda pak ibnu terhenti.

Sambil mengamati 2 bocah bocah kecil yang ternyata tuyul menghadang laju sepeda Pak Ibnu.

Pak ibnu bukanlah orang biasa. Ia keturunan kelima dari Datuk Temiang Belah yang berasal dari Gunung Tajam Belitung yang memiliki ilmu turunan hingga bisa berkomunikasi dengan makhluk sakral.

Dengan sigap Pak Ibnu membuka bungkusan yang dititipkan Pak Mamat untuk anak-anaknya.

Ia mengambil sedikit ketan dan ayam panggang yang telah di suwir suwir.

Pak Ibnu lalu melemparkan makanan itu ke arah pinggir aliran sungai.

Baca Juga  Mati Inspirasi

Ia berlalu dengan mengayuh sepeda ontel yang hanya di terangi lampu dari dinamo tertempel di roda depan.

Ternyata ketan dan ayam yang diserahkan Pak Mamat tanpa bawang dan cabe sebagai penangkal saat membawa makanan ketika malam hari.

Bawang dan cabe digunakan untuk menghindar dari makhluk makhluk seperti kejadian yang menimpa Pak Ibnu malam itu.

Walahualambissawaf. Ternyata pantang larang masih berlaku di beberapa wilayah yang ada di Kepulauan Bangka Belitung terkhusus ujung selatan pulau Bangka.