Air mata Rizal menetes membasahi surat itu. Ia teringat saat-saat terakhir bersama ibunya di rumah sakit. Bu Aisyah selalu berusaha tersenyum, meski tubuhnya semakin lemah. Ia selalu menyemangati Rizal, memintanya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Rizal melanjutkan membaca surat-surat lainnya. Di surat yang lain, Bu Aisyah menulis tentang kekhawatirannya terhadap masa depan Rizal. Ia berharap Rizal tidak melupakan shalat dan selalu berbuat baik kepada sesama. Di surat yang lain lagi, Bu Aisyah menceritakan tentang mimpinya melihat Rizal menikah dan memiliki keluarga bahagia.

Di salah satu surat, yang tampak paling usang, tertulis:  “Rizal, Ibu tahu kamu menyimpan mimpi menjadi arsitek. Jangan pernah lupakan mimpi itu, Nak. Mungkin sekarang kamu harus membantu Ibu dan meneruskan warung kopi, tapi Ibu yakin, suatu saat nanti kamu akan bisa mewujudkan mimpimu. Ibu selalu berdoa untukmu.”

Baca Juga  Lempah, Rusip, dan Es Sirup Jadi Menu MBG di SMP Negeri 3 Toboali

Membaca surat itu, Rizal merasa tertampar. Ia selama ini merasa menjadi korban keadaan. Ia menyalahkan takdir karena telah merenggut ibunya dan mimpinya. Ia lupa bahwa ibunya selalu percaya padanya.

Rizal menyeka air matanya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju warung kopinya. Ia menatap warung itu dengan pandangan baru. Warung kopi ini bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga warisan dari ayahnya, dan bagian dari dirinya.

Rizal tersenyum. Ia tahu, ia tidak bisa menjadi arsitek dalam semalam. Tapi, ia bisa memulai dari hal-hal kecil. Ia bisa merenovasi warung kopinya menjadi lebih nyaman dan menarik. Ia bisa membuat desain interior yang unik dan kreatif. Ia bisa menyalurkan bakatnya di warung kopi itu.

Baca Juga  Rahasia Puasa di Hari ke-7: Sudahkah Hatimu Tersingkap Sebelum Terlambat

Malam itu, Rizal tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang ibunya yang tersenyum bahagia. Ia tahu, ibunya selalu bersamanya, memberikan semangat dan dukungan dari surga.

Keesokan harinya, Rizal bangun dengan semangat baru. Ia mulai membersihkan dan menata ulang warung kopinya. Ia membuat sketsa desain interior di selembar kertas. Ia bertekad untuk mewujudkan mimpi ibunya dan mimpinya sendiri.

Di warung kopi kecil itu, di antara aroma kopi yang menggoda dan senyum hangat Bu Aisyah di dinding, Rizal menemukan kembali semangat hidupnya. Ia tahu, surat dari surga itu adalah pelita yang akan menuntunnya menuju masa depan yang lebih baik. Ia akan terus berjuang, berikhtiar, dan berdoa, karena ia tahu, ibunya selalu bersamanya, memberikan restu dan cinta dari surga.

Baca Juga  Lupa Budaya? Lingkungan Kotor: Ini Waktunya Semua Bersatu, Rutin Gotong Royong