Surat dari Surga: Aroma Kopi dan Janji di Balik Kota Kayu
Surat dari Surga: Aroma Kopi dan Janji di Balik Kotak Kayu
Oleh: Yanto, M. Pd., — Guru PAI BP SMPN 3 Toboali, Bangka Selatan
Mentari Jakarta menyengat, tapi Rizal sudah sibuk di warung kopi kecilnya. “Kopi Joss satu, Mas!” teriak seorang pelanggan. Rizal, dengan cekatan, menyeduh kopi hitam pekat, memasukkan bara arang yang membara, lalu menyajikannya. Warung kopi itu, warisan dari almarhum ayahnya, kini menjadi satu-satunya sumber penghidupan Rizal.
Dulu, Rizal punya mimpi besar: menjadi arsitek. Ia bahkan sempat kuliah beberapa semester sebelum ibunya sakit. Biaya pengobatan Bu Aisyah memaksa Rizal merelakan mimpinya. Ia banting tulang membantu ibunya, lalu sepeninggal ibunya, ia meneruskan warung kopi itu.
Setiap hari, rutinitas Rizal nyaris sama: bangun subuh, membersihkan warung, belanja bahan, melayani pelanggan hingga larut malam. Di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri menatap foto ibunya yang tergantung di dinding warung. Senyum hangat Bu Aisyah seolah memberinya kekuatan.
Namun, malam ini, ada yang berbeda. Setelah menutup warung dan menghitung hasil penjualan yang pas-pasan, Rizal tak langsung tidur. Ia teringat kotak kayu yang ditemukannya di kamar ibunya siang tadi. Penasaran, ia membawa kotak itu ke beranda rumah kontrakannya.
Dengan tangan gemetar, Rizal membuka kotak itu. Aroma lavender, parfum kesukaan ibunya, menyeruak memenuhi udara. Di dalamnya, tersusun rapi beberapa lembar surat yang ditulis tangan. Jantung Rizal berdegup kencang. Ia mengenali tulisan itu: tulisan tangan Bu Aisyah.
Surat pertama yang diambil Rizal bercap tanggal beberapa bulan sebelum ibunya meninggal. Dengan suara bergetar, ia membacanya:
“Anakku Rizal, jika kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada lagi di sisimu. Ibu harap, kamu tidak terlalu bersedih. Ibu tahu, kamu anak yang kuat. Ibu bangga padamu, Nak. Maafkan Ibu, tidak bisa melihatmu meraih cita-citamu menjadi arsitek. Tapi, Ibu yakin, kamu akan sukses dengan jalanmu sendiri.”
