Dinamika Pelestarian Humpit Beduri
Maka dari itu, Humpit Beduri yang awalnya hanya berbentuk kecil dan berfungsi sebagai wadah penangkal, mengalami perkembangan bentuk dan spesialisasi fungsi, meliputi pembuatan mangkuk untuk penyimpanan ari-ari, mangkuk bumbu, bakul nasi, hingga tudung dulang.
Kondisi Humpit Beduri saat ini, masih ada beberapa desa yang aktif memproduksinya, hal ini menunjukkan bahwa Humpit beduri mengalami ketahanan budaya yang masih terjaga, namun jumlah produksinya sudah sangat berkurang.
Hal tersebut berkaitan dengan pernyataan testimoni sejarah dari Tokoh Masyarakat, Julaili Romli, pada tahun 1981 terjadi perubahan dan perkembangan signifikan dalam pembuatan Humpit Beduri. Pergeseran material dari daun pandan hutan ke tali plastik merepresentasikan respons adaptif terhadap keterbatasan ketersediaan bahan baku alami, sekaligus tuntutan praktis dalam preservasi.
Transformasi material ini memunculkan dialektika budaya yang kompleks dalam masyarakat pengguna dan pembuat Humpit Beduri. Di satu sisi, efisiensi dan kepraktisan material plastik mendapat apresiasi, namun di sisi lain, muncul preferensi kuat di kalangan masyarakat terhadap versi pandan asli, disebabkan pertimbangan kualitas penyimpanan bahan pangannya lebih baik, khususnya menjaga kesegaran dan kualitas organopletik makanan yang disimpan di dalamnya.
Tentunya dengan adanya pergeseran ini, membawa implikasi terhadap makna kultural Humpit Beduri. Menurut masyarakat yang melestarikan Humpit Beduri (Pandan atau Plastik) maupun yang hanya sebatas melihat saja, estetika Humpit Beduri ini tidak hanya bernilai visual, tetapi juga mengandung filosofi budaya yang dalam tentang tata kehidupan masyarakat.
2. Tantangan Pelestarian
Pelestarian Humpit Beduri saat ini menghadapi ancaman serius. Ancaman ekologis, menyusutnya populasi pandan hutan sebagai bahan baku utama. Deforestasi, ahli fungsi lahan gambut, dan ekspansi perkebunan monokultur seperti sawit telah mengganggu habitat alami pandan berduri.
Ancaman sosiokultural, jumlah pengrajin anyaman semakin sedikit karena ilmu nganyam sulit untuk diturunkan kepada generasi muda. Dipandang juga sebagai usaha sampingan yang belum menjanjikan nilai ekonomi yang memadai.
Ancaman ekonomi-stuktural, produksi Humpit Beduri yang bersifat sambilan dan tidak kontinu, serta belum adanya sistem produksi dan rantai pasok yang mapan, membuat potensi ekonomi anyaman pandan sulit bersaing dengan mata pencaharian alternatif.
3. Rekomendasi Strategi Pelestarian
Pemerintah, LAM, Dewan Kesenian Kabupaten Bangka Selatan dapat bekolaborasi dengan masyarakat untuk membudidayakan spesies pandan hutan ini, baik di kebun masyarakat maupun melindungi habitat alaminya.
Selain itu, mendokumentasikan seluruh pengetahuan terkait Humpit Beduri mulai dari teknik anyam, motif, narasi magis, hingga cara pengolahan bahan baku ke dalam arsip digital dan audio visual. Hal ini crucial untuk menjamin pengetahuan ini tidak hilang seiring dengan menurunnya jumlah maestro.
Hal lainnya, seperti mengembangkan model ekonomi kreatif yang bertanggung jawab. Misalnya, dengan mendorong inovasi produl yang lebih populer (seperti tas) tanpa meninggalkan kekhasan budayanya. Hingga memberikan pelatihan dan peralatan yang memadai kepada generasi muda di sekolahan atau masyarakat umum untuk mebuka peluang ekonomi dan membuat aktivitas menganyam menjadi lebih menarik dan feasible untuk ditekuni.
Penulis:

