Dinamika Pelestarian Humpit Beduri

Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara, S.Sos.,M.M., — Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan

Humpit Beduri merupakan anyaman tradisional turun-temurun yang terbuat dari daun pandan hutan atau pandan beduri. Berdasarkan penelitian etnografis yang dilakukan di beberapa desa di Bangka Selatan sebagai sentra produksi Humpit Beduri seperti Desa Bencah, Desa Delas, Desa Nyelanding, dan Desa Irat, teridentifikasi beberapa bentuk utama Humpit Beduri yang masih diproduksi dan digunakan sampai sekarang.

Bentuk pertama adalah Wadah Penangkal atau Penyimpanan Kecil yang berukuran sangat kecil dan khusus. Humpit Beduri Penangkal ini biasa digunakan untuk wadah satu butir telur (Teluk Herujo), atau untuk menyimpan bawang, bersamaan dengan gunting kecil dan satu buah paku yang dipercaya sebagai penangkal mahkluk halus.

Baca Juga  Rakyat, Sebuah Kartu yang Menentukan Nasib

Bentuk kedua adalah Mangkuk Humpit Beduri yang terdiri dari berbagai ukuran dengan fungsi yang sangat terspesialisasi. Mangkuk berukuran besar biasanya digunakan untuk menyimpan ari-ari bayi sebelum proses penanaman. Mangkuk berukuran sedang berfungsi untuk menyimpan bumbu dapur dan rempah-rempah.

Bentuk ketiga adalah Bakul Humpit Beduri yang berfungsi sebagai wadah penyimpanan pangan seperti nasi dan berbagai jenis makanan tradisional lainnya.

Bentuk keempat dan paling unik adalah Tudung Dulang Humpit Beduri yang berfungsi sebagai penutup dulang. Bentuk ini menyerupai candi dengan anyaman rapat dan tekstur permukaan yang berduri.

1. Sejarah Pelestarian

Sejarah pelestarian Humpit Beduri saat ini masih terjaga melalui transmisi pengetahuan intergenerasional yang bersifat informal dan oral (lisan). Menurut penuturan maestro dan Tokoh Masyarakat Desa Bencah dan Desa Delas, Nek Minun (80 tahun), Nek Bai (70  tahun), Cik Jana (51 tahun) dan Julaili Romli (tokoh masyarakat), pengetahuan dan keterampilan membuat Humpit Beduri diwariskan secara langsung dari nenek dan ibu mereka lebih dari 3 generasi.

Baca Juga  Mempertahankan Satwa Vertebrata untuk Keberlangsungan Ekosistem

Menurut mereka Humpit Beduri adalah wadah penyimpanan yang dibangun melalui teknik anyaman tradisional, memiliki ciri khas sturuktur permukaan yang menyerupai duri dari tiga komponen utamanya, yaitu penutup, badan dan bagian bawah.

Selain itu, Humpit Beduri mengalami transformasi fungsi yang signifikan dalam perjalanan historisnya. Konsep berduri ini merupakan kristalisasi dari praktik kultural dan kepercayaan masyarakat tempo dulu.

Dulunya sering ditemukan di desa-desa. Masyarakat memasang dahan batang salak atau limau yang berduri di pintu masuk rumah sebagai bentuk perlindungan spiritual, mereka percaya bahwa makhluk halus tidak berani mendekat dan masuk ke dalam rumah.

Oleh karena itu, awal kemunculan Humpit Beduri juga berakar pada kebutuhan masyarakat akan perlindungan spiritual. Wadah Penangkal merupakan Humpit Beduri tertua yang berfungsi untuk menyimpan bawang, bersamaan dengan gunting kecil dan satu buah paku guna melindungi ibu hamil dan bayi baru lahir dari gangguan makhluk halus.

Baca Juga  Peran Perguruan Tinggi di Bangka Belitung dalam Mengakselerasi Kemajuan Peradaban

Secara kosmologis, struktur beduri ini diyakini memiliki kemampuan untuk mengusir makhluk halus karena dianggap merepresentasikan ancaman dalam persepsi non-fisik. Kepercayaan ini didasarkan pada analogi dengan praktik tradisional dimana makhluk halus dianggap takut pada benda-benda tajam dan runcing.

Seiring perkembangannya juga, masyarakat mulai menyadari bahwa bentuk berduri tidak hanya efektif untuk mengusir makhluk halus, tetapi juga untuk menjauhkan makanan dari binatang-binatang pengganggu.