Oleh: Sever Tania

Kita seringkali kita mendengar omongan orang tua bahwa standar  kesuksesan seorang anak atau pun keluarga ialah bekerja sebagai pegawai kantoran yang bekerja di kota besar? Pernahkah kalian mendengar asumsi orang tua bahwa bekerja pada sektor pertaniaan dianggap rendah? Ya, seringkali kita mendengar ucapan – ucapan tersebut yang tanpa kita sadari bahwa hal-hal tersebut menjadi segelintir faktor penyebab sebaran tenaga kerja di Indonesia tidak merata.

Hal- hal ini disebabkan karena persepsi “sukses” di mata orang tua yang sempit. Orang tua banyak menganggap bahwa bekerja di kota ialah pekerjaan yang sangat menjanjikan karena banyak orang tua yang melihat bahwa bekerja di kota besar lebih menjamin kehidupan yang lebih baik. Padahal dalam faktanya pandangan tersebut justru mengakibatkan berbagai masalah seperti meningginya  angka pengangguran di ibu kota, terpecahnya fokus untuk menyeimbangkan tenaga kerja antara tenaga kerja di kota besar maupun tenaga kerja daerah.

Baca Juga  Pencucian Uang di Era Digital: Bagaimana Aset Kripto Jadi Sarana Tersembunyi bagi Pelanggar Hukum

Tak hanya itu, pola pikir orang tua yang dapat menjadi penyebab sebaran tenaga kerja tidak merata ialah banyak orang tua yang menganggap pendidikan dan kemajuan teknologi tidak lah terlalu berpengaruh dalam dunia kerja. Pada nyatanya hal-hal tersebut menjadi penunjang utama dalam bekerja di zaman yang semakin modern ini. Banyak orang tua beranggapan bahwa pendidikan formal jauh lebih utama dibandingkan pendidikan keterampilan. Faktanya, pendidikan keterampilan justru menjadi modal besar bagi para tenaga kerja karena tidak semua orang memiliki keterampilan yang ia miliki.

Padahal keterbatasan informasi dan teknologi yang dimiliki orang tua akan jadi penyebab ketimpangan antara tenaga kerja di kota besar dengan tenaga kerja daerah.

Baca Juga  Dinamika Urbanisasi dan Globalisasi