Indonesia akan Hitung Cadangan LTJ, Gandeng Perguruan Tinggi untuk Pengembangan
Kata Kepala Badan Industri Mineral itu, selain menghitung komposisi dan sebaran, pemerintah juga melakukan kajian untuk proses produksi, pemisahan hingga pemurnian tanah jarang. Alasannya, potensi LTJ terdapat 3 sumber seperti primary resource.
“Itu beberapa data sudah dihasilkan oleh Badan Geologi, sekarang juga sedang disurvei. Yang kedua secondary resource, berasal dari tailing atau sisa hasil produksi mineral utama. Itu ada timah, nikel, bauksit dan mineral lainnya,” katanya.
Pihaknya akan menyampaikan kepada publik total cadangan tanah jarang di Indonesia sekitar akhir November atau awal Desember 2025. Untuk persoalan teknologi pengembangan tanah jarang, pemerintah terus berkolaborasi dengan sejumlah Perguruan Tinggi seperti ITB.
Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara menyambut baik kolaborasi ini. Dia mengatakan, ITB akan menyediakan teknologi dan SDM. Karena tidak bisa sendirian, ITB nantinya akan menjalin kerja sama dengan perusahaan industri dan seluruh pemangku kepentingan.
“Sesuai arahan Pak Menteri, kalau orang lain gak mau ngasih, kita kuasai. Kita, ITB, minat dalam meneliti logam tanah jarang semakin tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sudah ada beberapa teknologi kunci dan peneliti sudah fokus dalam bidang ini,” kata dia.
