Merawat Budaya Ganjal Desa Ibul di Era Modern

Oleh: Yobi — Mahasiswi Universitas Bangka Belitung

Bisakah modernitas menghempaskan budaya ganjal masyarakat Jereng yang telah terbangun 40 tahun lamanya? Tentu dengan besarnya arus teknologi tak bisa dipungkiri suatu budaya akan termarginalkan karena konstruksi budaya luar. Terkhusus budaya populer dan dengan canggihnya dunia mempromosikan keindahan transisi tradisional ke era modern saat ini.

Namun, berbeda terjadi di Dusun Jelitik, Desa Ibul Kecamatan Simpang teritip. Tidak sedikit pun perubahan budaya terpengaruh oleh globalisasi terutama budaya masyarakat jereng, yakni budaya ganjal.

Budaya ganjal sudah ada sejak sebelum tahun 1986. Budaya ini merupakan aktivitas warga setempat seperti gotong royong akan tetapi kegiatan ini dilakukan untuk kepentingan pribadi seperti saat ingin menanam padi milik sendiri, namun dalam pengerjaannya dilaksanakan secara bersama-sama dari awal penanaman hingga masa panen.

Baca Juga  Hukum Tata Negara: Menjaga Demokrasi dan Konstitusi di Era Modern

Secara spesifik ganjal tidak hanya terpusat melalui satu orang saja, pada umumnya ganjal dilakukan secara bergilir dan akan terus dilakukam hingga utang ganjal terbayarkan: oleh masyarakat jereng ini disebut dengan “malessaoh”. Selain bergantian dalam aktivitas ganjal setiap melakukan kegiatan ini orang yang sedang mengadakan ganjal harus menyiapkan suatu hidangan atau makanan seperti bubur nasi, bubur singkong, dan makanan tradisional lainnya.

Hal yang unik juga terjadi saat aktivitas ganjal ini, karena transformasi dalam kegiatan kian terjadi, bukan pergeseran budaya melainkan cara dan teknik yang dipakai saat mengelola komuditas hasil ganjal tadi. Seperti saat ganjal menanam padi pada tahun 1986-an masyarakat mengelola atau memproduksi hasil ladang secara manual dengan menggunakan lesung, padi ditumbuk hingga biji terlepas dari kulitnya.

Baca Juga  Transformasi Ekonomi Bangka Belitung: Mengembangkan SDM Berkualitas melalui Manajemen Perubahan

Sebelum ditumbuk tentu padi harus dalam keadaan kering, bisa dengan cara dijemur ataupun dipanaskan dalam kuali. Di zaman modern ini cara itu sudah tak terpakai lagi, masyarakat jereng cenderung memakai mesin penggiling padi walaupun harus membayar, karena salah satu warga menyebutkan “gapapa bayar yang penting makan beras merah, jaman dulu susah kalau nak makan beras merah harus ditumbuk-tumbuk dulu”(M/08/25).

Bukan hanya teknik dalam mengelola padi tapi, pada santapan juga kian berubah dari yang awalnya makanan tradisional kini masyarakat beradptasi dan mengkonsumsi makanan ringan seperti kue-kue toko, minuman dingin, dan cemilan-cemilan.