Merawat Budaya Ganjal Desa Ibul di Era Modern
Budaya ganjal terjadi bukan hanya saat musim padi, tetapi juga ketika ingin membabat hutan, menanam sawit, menyemprot lahan, dan kadang menggali sumur pun masyarakat dominan melakukannya bersama-sama atau dengan budaya ganjal. Dalam perspektif sosiologi hal ini tak bisa dilepaskan dari konsep solidaritas mekaniknya Durkheim, ternyata dengan kesadaran bersama atau kesadaran kolektif akan pentingnya melakukan kegiatan bersama-sama masyarakat jereng menciptakan suatu budaya yang bertahan hingga era modern ini.
Penulis melihat banyak sekali nilai, norma, dan solidaritas yang terbangun oleh budaya ganjal, dapat kita lihat nilai kekeluargaan terbangun cukup erat karena masyarakat harus tetap melakukan kegiatan secara bersama-sama karena saling membutuhkan satu sama lain.
Ada juga aturan bahwa setiap orang yang telah ganjal harus malessaoh kepada orang yang ikut ganjal dengannya, ini pantang dilanggar karena sudah ada dalam perjanjian budaya ganjal, opsi ketika benar-benar tidak bisa malessaoh maka harus membayar orang untuk menggantikannya atau dua kali ikut ganjal orang di waktu yang berbeda.
Solidaritas sangat terlihat ketika individu kekurangan tenaga dapat dibantu oleh keluarga maupun tetangga, selain itu saat waktu istirahat masyarakat atau orang-orang yang sedang ganjal sering kali mengobrol dan membahas banyak hal bersama.
Kepedulian juga terjalin, terbukti ketika padi telah siap masa panen masyarakat yang ikut ganjal akan dibagi hasil panennya. Dimulai dari setengah hasil panen setiap orang, atau juga diukur dengan tempurung kelapa di zaman dulu, di zaman sekarang bisa menggunakan karung beras 5 kilogram/orang.
Ketika ada masyarakat yang tidak memiliki bibit padi bisa meminjam dari salah seorang masyarakat, ketika telah panen maka bibit padi akan dikembalikan pada peminjam bibit tadi. Ternyata bukan hanya solidaritas mekanik Durkheim yang terlihat, teori pertukaran Peter Blau juga nampak adanya. Pertukaran tenaga dan hasil dari budaya ganjal ini berhasil terealisasikan dalam aktivitas ganjal.
Menjawab pertanyaan diawal apakah bisa modernitas menggeserkan budaya secara keseluruhan, ternyata tidak semua budaya akan tergeser atau tergantikan dengan budaya-budaya baru. Penulis berharap budaya ganjal akan terus berlanjut bahkan ketika semua masyarakat jereng berpendidikan tinggi.
Artinya pendidikan tidak bisa menjadi penghambat kita untuk turun ke tanah demi menghindari aktivitas “kotor” hanya karena telah menempuh jalan panjang untuk mengangkat derajat, diharapkan kitalah sebagai intelektual muda yang harus terus mengembangkan dan mempertahankan budaya ganjal hingga mungkin akhir hayat bumi.
