Oleh: Hendrawan, S.T., M.M. — Alumni Program Studi Magister Manajemen Bidang Manajamen Publik Universitas Pertiba-Pangkalpinang

Membaca kemudian menulis atau sebaliknya, demikian secara sederhana lebih familiar disebut literasi. Menurut Harvey J. Graff (2006), Literasi ialah suatu kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca.

Namun, menurut UNESCOThe United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization”, Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya.

Sementara National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual.

Baca Juga  Pentingnya Penunjuk Arah di Alun-alun Kota

Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Kemudian, Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis.

Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Terkadang atau setiap saat suguhan informasi yang dibutuhkan maupun yang tidak dibutuhkan hadir di hadapan mata maupun datang mengetuk jendela telinga.

Tentu tak semua yang dilihat atau didengar harus ditulis. Tak semua yang ditulis dapat diikat atau dikurung seperti hewan peliharaan. Rasional dan logis jika readers dan viewers atas suatu karya meledak menjadikan sang creator merasa bahagia serta bangga, semacam kepuasan batin yang sesuai ekspektasi. Diperkuat lagi dengan fenomena narsisme yang fenomenal di era digital saat ini.

Baca Juga  Seberapa Besar Pengaruh Artificial Intelligence bagi Mahasiswa di Babel?

Narsisme itu sendiri sejak lama telah diperkenalkan oleh seorang ahli psikologi bernama Sigmund Freud. Ia mempopulerkan gejala psikologi narsis ini pada tahun 1914 dalam esainya yang berjudul “On Narcissm, An Introduction”.

Freud mengambil istilah narsisme dari tokoh dalam sebuah mitos Yunani, yaitu Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), ia merupakan seorang pria muda yang jatuh cinta kepada pantulan wajahnya sendiri di kolam, ada juga beberapa versi yang mengatakan di sungai.