Rasa syukur sepasang merpati itu memang pantas disematkan. Karena di saat banyak anak-anak merpati yang lain bermasalah dengan tingkah lakunya anak-anak mereka tidak pernah merepotkan. Di saat anak-anak merpati lain yang seusia dengan anak-anak mereka sibuk menjadi jagoan dan melakukan tawuran, anak-anak mereka sangat mudah untuk diarahkan.

Dan di saat anak-anak merpati lain kadang terlibat dengan pihak yang berwajib karena obat-obatan terlarang, anak-anak mereka tetap patuh dengan instruksi orang tuanya.

“Tapi, sekarang aku harus lebih rajin lagi bekerja.”

Kali ini merpati jantan menghela napas. Sambil mengibaskan sayapnya.

“Mereka tentunya membutuhkan lebih banyak lagi makanan.”

Merpati betina hanya bisa diam. Ia mengerti kegelisahan yang dialami oleh merpati jantan. Sebagai kepala keluarga memang beban itu ada di pundaknya.

Jika diawal mereka membangun rumah tangga dulu, kebutuhan masih sedikit sehingga tidak perlu ngoyo-ngoyo untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari, namun setelah mempunyai keturunan yang sudah besar, tentu akan menuntut kebutuhan yang lebih banyak lagi.

Baca Juga  Mak Panggung: Sang Jenderal di Dapur Hajatan

Tiba-tiba merpati jantan diam seribu bahasa. Ingatannya kembali mundur dua puluh tahun yang lalu. Saat itu ia memutuskan untuk berkeluarga dengan merpati betina.

Waktu itu keluarganya meragukan keputusannya. Keluarganya takut jika merpati jantan tidak bisa menafkahi merpati betina yang akan dijadikan pasangannya, ditambah usianya masih terlalu muda.

Berbagai usaha dilakukannya untuk meyakinkan keluarganya. Ia berbicara kepada keluarganya bahwa ia akan bekerja keras demi menghidupi pasangannya nanti, apapun akan ia lakukan, bahkan menjadi pekerja kasar sekalipun. Tekadnya semakin kuat tatkala calon pasangan dan keluarganya mendukung sepenuh hati.

Hal itu dimanfaatkan oleh merpati jantan untuk semakin intens melakukan pendekatan kapada keluarganya. Dan akhirnya dengan kegigihannya ia berhasil meluluhkan hati keluarganya dan merestuinya untuk meminang merpati betina. Dan dengan acara yang sangat sederhana merpati jantan dan merpati betina mengucapkan janji suci untuk setia sampai mati.

Baca Juga  Hukum di Akhir Zaman

Ujian belum berakhir, karena di awal rumah tangga, mereka mengalami kesulitan ekonomi. Karena usianya yang masih muda, merpati jantan kesulitan mencari nafkah, minimnya pengalaman membuat ia hampir menyerah dalam menjalani hidup.

Beruntung ia memiliki pasangan yang setia seperti merpati betina, sehingga perlahan-lahan ia berhasil mengatasi permasalahannya. Dari ketekunannya merpati jantan berhasil beradaptasi dengan keadaan. Dan kehidupan mereka berangsur-angsur membaik. Sampai dianugerahi tiga anak yang lucu dan manis.

*****

“Kita harus tetap berpegang dengan janji dua puluh tahun yang lalu.”

Merpati jantan berbicara dengan merpati betina sembari mengingatkan apa yang sudah mereka sepakati di awal membangun rumah tangga.

Merpati betina mengangguk pelan. Ia sedikit mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat kembali perjanjian yang pernah mereka ucapkan. Maklum merpati betina terkadang sering lupa dengan sesuatu yang penting. Mungkin karena terlalu repot mengurusi rumah tangga dan anak-anak mereka.

Di luar bangunan terlihat anak-anak mereka sedang asyik bermain. Terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Terlihat raut kebahagiaan mereka.

Baca Juga  Hampa

Ekpresi yang tentunya selalu diinginkan oleh sepasang merpati itu. Ekspresi itu akan selalu dijaga oleh pasangan merpati itu. Bagi sepasang merpati ekspresi itu adalah segalanya. Mereka akan rela menderita dan bersedih asalkan anak-anak mereka tetap berekspresi seperti itu.

Janji sepasang merpati itu akan tetap terpatri dalam hati. Apapun yang terjadi janji itu akan tetap mereka pertahankan. Janji yang tak akan lekang oleh waktu. Dua puluh tahun sudah mereka menyimpan janji itu dan mungkin sampai mereka sudah tidak di dunia lagi, janji itu akan tetap abadi.

*****

Bionarasi Penulis:

Sya-Ju adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah seorang guru di MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]