Tugas guru memang seabrek, tapi nol rupiah. Hal tersebut justru menunjukkan bahwa guru merupakan profesi yang benar-benar sedikit akan tuntutan. Jika menuntut hak yang memang sebelumnya dijanjikan itu adalah suatu kewajaran. Pedoman negara kita mengajarkan bahwa tidak boleh mendahulukan hak dari kewajiban.

Saat kewajiban telah terpenuhi namun hak masih tidak ada kejelasan, sewajarnya tuntutan hak dikumandangkan. Guru memang tidak ada yang berdeposito dollar, namun bukan berarti mereka tidak memiliki deposito. Deposito mereka bisa saja berupa kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian mereka terhadap murid-muridnya yang selalu ia berikan tanpa menuntut balasan siapapun. Hanya satu yang mereka harapkan, deposito mereka dapat dicairkan dalam bentuk pertolongan dari Yang Maha Kuasa di hari kekal nanti.

Tak dapat dimungkiri bahwa semakin hari semakin langka menemukan generasi yang bercita-cita menjadi guru. Tak sedikit dari mereka yang memang telah mengetahui pahitnya fakta terkait penghargaan yang harus ditelan sebagai seorang guru. Di sisi lain, doktrin yang sangat kuat pun sudah pasti merasuki dengan banyaknya media yang menginfomasikan honor guru, kesejahteraan guru, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Generasi Rapuh, Tanda Pendidikan Kita Kehilangan Ruh

Yang tak kalah penting, dewasa ini kejutan demi kejutan muncul dengan adanya oknum guru yang melakukan tindakan kriminal dan asusila. Belum lagi jika guru menegur dan memberi sanksi pada murid hanya mendapat balasan panggilan dari pihak berwajib alih-alih copot jabatan. Itu belum termasuk murid-murid yang harus dihadapi dengan seribu satu karakter dan latar belakang yang berbeda.

Inilah semesta, semua beredar dengan seimbang. Apabila ada sisi negatif tentulah diciptakan pula sisi positif. Dari sekelumit hal negatif yang timbul dari kata dan sosok guru, terdapat milyaran hal positif sebagai penyeimbangnya. Jika benar sosok guru semenakutkan itu masa depan dan kesejahteraannya, mungkin tak satupun yang mau menjadi guru di negeri ini.

Baca Juga  Melawan Lupa: Menguatkan Identitas dan Posisi Kabupaten Bangka Tengah

Semua guru akan menyerahkan surat pengunduran dirinya secara masal. Namun apa yang tampak, semua masih sama. Semua yang telah menyandang profesi guru masih tegak hadir di depan kelasnya dengan senyum bangga dan rasa rindu yang selalu ia nanti setiap harinya.

Saat ini, profesi guru mungkin saja masih tidak akan dilirik oleh generasi-generasi muda. Mereka akan jauh lebih tertarik dengan profesi lain seperti dokter, aparat, pejabat, pengusaha, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, pasti akan ada generasi yang unik yang terpanggil hatinya hanya karena ia terinspirasi oleh gurunya.

Generasi yang dengan sendirinya meyakini bahwa negeri ini butuh sosok guru yang benar-benar mencintai pendidikan dan generasi setelahnya. Generasi yang tangguh, yang paham benar bahwa sekalipun menjadi guru dia masih memiliki pintu lain untuk dapat mewujudkan memiliki rumah bertingkat ataupun berdeposito dollar.

Baca Juga  Pengolahan Lahan Padi Ladang Berkelanjutan, Tradisi Memerun Menuju PLTB

Harapan tak kan putus bagi orang-orang yang yakin akan masa depan. Sedikit demi sedikit, kesejahteraan sosok guru sudah mulai diberikan perhatian khusus.

Dengan adanya tunjangan profesi guru profesional bagi aparatur dan nonaparatur negara. Banyaknya peluang pengembangan kompetensi untuk jenjang karier guru dan studi lanjut terbuka lebar. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi semuanya dengan kacamata bijak, karena hal yang baik akan mengahsilkan yang baik pula. Kita yakini bahwa menjadi seorang guru adalah hal yang sangat mulia, yang berlabuh hanya pada insan pilihan. Karenanya …

menjadi seorang guru adalah sebuah pilihan, bukan mainan ataupun sambilan.”

-ys-