Ubur-Ubur Tenun: Damainya Laut Bangka di Balik Kain Cual Maslina

Oleh: Ulfiah Tita Darmha dan Miftahul Fauzan – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Di sela riak gelombang laut Bangka, ada cerita yang tak selalu terdengar namun hadir lembut melalui benang dan warna di sepotong kain. Kain itu adalah Kain Cual, tenunan khas Bangka Belitung yang sarat makna, dan motif yang kini menarik perhatian adalah Motif Ubur‑Ubur (Gambar 1b) sebuah desain asli hasil karya tangan seorang perempuan kreatif, Ibu Maslina, yang mengaku terinspirasi saat melihat ubur-ubur (Gambar 1a) mengambang tenang di laut.

Motif ini bahkan telah mendapat hak paten, menjadikannya simbol identitas dan kebanggaan budaya lokal, menurut kami spesies ubur-ubur yang dimaksud adalah ubur-ubur yang banyak digunakan dalam motif batik yaitu chrysaora colorata.

Kain Cual sendiri telah dikenal sejak abad ke-17 di Bangka, sebagai tekstil tradisional masyarakat pesisir. Teknik tenunnya unik perpaduan tenun ikat dan songket menghasilkan tekstur halus dan motif yang khas, sering menggunakan benang sutra atau katun, dengan aksen benang emas pada motif tertentu.

Baca Juga  Menjaga Keseimbangan: Konservasi dan Pariwisata Berkelanjutan di Bangka Belitung

Ragam motif pada kain Cual umumnya terinspirasi dari alam, flora dan fauna sekitar pulau. Dalam penelitian kualitatif (Anggraini & Manaf, 2020) terhadap kain Cual oleh komunitas perajin, ditemukan bahwa motif fauna pada Cual kerap dibuat abstrak bukan representasi detail sebagai bentuk adaptasi terhadap aspek religius masyarakat.

Selain itu, motif fauna dan flora dalam kain Cual mencerminkan hubungan manusia dengan alam, laut, hutan, flora, fauna sebagai bagian dari identitas budaya Bangka.

Warna- warna cerah khas Melayu, dan teknik tenun tradisional, membuat kain Cual menjadi simbol status, estetika, dan pekerjaan tangan yang sarat kesabaran. Dahulu, kain Cual dipakai sebagai pakaian bangsawan, kain kebesaran pada upacara adat atau pernikahan; sekarang, meskipun penggunaannya lebih luas, nilai simboliknya tetap dijaga.

Baca Juga  Nurtanio dan Habibie: Api Semangat Kebangkitan Teknologi Indonesia

1a. Ubur-ubur( chrysaora colorata)