Duka Ibu di Akhir Tahun

Oleh: Ummi Sulis — Penulis yang Tinggal di Bangka Selatan

Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan, gunung, sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Kiranya syair gubahan Ismail Marzuki yang tercipta pada zamannya sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Ibu Pertiwi sedang berduka, atau barangkali murka?

Lagu yang diciptakan tahun 1945 ini kerapkali menjadi sound dalam aktivitas menyalurkan bantuan di daerah bencana. Syair yang menggambarkan duka cita di antara kekayaan alam yang berlimpah sangat kontras dengan jargon-jargon “Indonesi Hebat, Indonesia Kuat”,

Seperti kita ketahui, bencana terbesar yang meluluhlantakkan tiga provinsi di Pulau Sumatera (Sumut, Sumbar, dan Aceh) yang puncaknya terjadi pada 25-30 November 2025 lalu lebih dahsyat dari bencana tsunami yang menerjang Aceh pada 25 Desember 2004, 21 tahun silam.

Baca Juga  Buku yang Tak Terbeli dan Luka Tak Terbaca

Banyak pakar ekologi yang berkomentar, bencana ini bukan hanya kejadian alam, tetapi akibat dari kerusakan ekologi masif yang dibuat oleh manusia. Seperti kata Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM menyatakan bencana banjir bandang di akhir November 2025 sejatinya bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Bahkan para ahli menilai fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang kian meningkat dalam dua dekade terakhir. Kombinasi faktor alam dan ulah manusia berperan di baliknya.

November-Desember curah hujan Indonesia lebih ekstrim dari bulan-bulan berikutnya atau sebelumnya. Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan struktur tanah menjadi lunak. Tak masalah sih, bila di atas tanah tersebut ditumbuhi pohon-pohon besar yang akarnya menghujam bumi.

Baca Juga  Seloka: Ramadan Berkah

Struktur tanah yang lunak akan dicengkeram dengan akar-akar yang kuat. Air yang turun melimpah akan ditampung di dalam tanah melalui akar-akar tanaman, dan akhirnya menjadi sumber mata air bila hujan telah mereda.