Duka Ibu di Akhir Tahun
Saat banjir Sumatera kemarin, apa yang terjadi? Bukan air sja yang menghantam pemukiman, tetapi kayu gelondongan yang tampak terpotong oleh mesin menjadi pemandangan di atas aliran banjir dan longsor tersebut. Kayu-kayu gelondongan menghantam pemukiman dengan daya rusak luar biasa.
Banyak korban jiwa dan harta benda yang tak ternilai. Bencana begitu kejam memisahkan orang tua dengan anaknya, memisahkan orang-orang dengan kerabat dan kampung halamannya, bahkan memisahkan harapan sebagian rakyat dengan masa depan yang akan digapainya.
Lihatlah wahai orang-orang yang terlibat dalam kerusakan ekologi parah ini. Ibu Pertiwi bukan hanya menangis, tetapi murka. Di mana hubungan timbal balik kita terhadap Allah, manusia dan alam? Ulah manusia serakah yang ingin memperkaya diri, membuat separuh Pulau menderita pedih.
Dunia medsos mengabarkan begitu dahsyatnya sebab-akibat yang ditimbulkan. Bukan rekayasa bila rakyat bantu rakyat, korban bantu korban, saling berbagi. Pemerintah pusat terkesan mencla mencle, lambat.
Tokoh penting terkesan bungkam, bahkan aktivitas di tempat bencana hanya menampilkan yang itu-itu saja. Sesama rakyat yang saling support di tengah perihnya menunggu bantuan. Ada satu yang saya tak habis pikir, kenapa bencana seheboh itu, tidak segera ditetapkan sebagai Bencana Nasional seperti zaman Presiden Soeharto dulu pernah menetapkan gempa dan tsunami daerah Flores, NTT menjadi bencana nasional melalui kepres nomor 66 tahun 1992.
Semoga pemerintah berbesar hati, demi kemanusiaan, menetapkan bencana Sumatera menjadi bencana nasional, agar akses bantuan dapat segera masuk, membantu, memperbaiki, mengevakuasi dengan segera, sehingga korban jiwa dan raga dapat diminimalisir. Pemulihan trauma anak-anak dan lansia segera ditangani. Pembukaan akses pendidikan dan fasilitas umum yang rusak parah segera ditindaklanjuti.
Hallo, apa kabar bila Tuhan pun memberlakukan hal ini pada negeri kita (tanah Wangka)? Sebab tanah ibu Pertiwi kita pun sudah penuh borok, bisul, korengan di mana-mana, bahkan pohon sudah berganti menjadi sawit. Karet ditebang ganti sawit. Rawa, sungai, dan laut dekerok isinya untuk diambil pasir wangkanya.
Lantas siapa yang harus peduli? Lapangan kerja semakin susah, ini gak boleh, itu dilarang, bahkan sampah berceceran di jalan-jalan utama yang membuat jijik pemandangan. La haulawala quwwata ila billah. Bukan hanya ibu Pertiwi yang menangis. Ibu-ibu yang mau masak pun menangis, karena kebutuhan semakin menguras isi dompet dan isi kepala.
Selamat hari Ibu untuk semua Ibu Indonesia. Jadilah ibu bijak, tapi jangan mau diinjak. Selamat hari Ibu juga untuk Ibu Pertiwiku. Kami mencintaimu sebagai bagian dari Hibblumminallah, habblumminannas dan habblum minal alam.
Di mana habblum minal alam dalam Al Qur’an merujuk pada surat Ar Rum (30:34) dan Al A’raf (7:56) yang mengingatkan dampak kerusakan oleh tangan manusia dan larangan berbuat kerusakan setelah diciptakan Allah dengan baik. Menjaganya adalah ibadah, merusaknya adalah dosa. Apalagi menyebabkan banyak korban jiwa, berarti dosa besar. Sejatinya alam pun bertasbih pada Allah, bagaimana bila alam rusak? Wallahu a’lam bishawaf. (Ditulis oleh Ummi Sulis, 22 Desember 2025)
