Pemkab Basel Pastikan Terasi dari Perajin Toboali Aman: Produk Luar Basel Diduga Mengandung Zat Pewarna
Selama ini petugas penyuluh di lapangan selalu melakukan pendampingan secara langsung kepada para pengrajin terasi lokal. Para pengrajin selalu diingatkan agar tidak menggunakan bahan pewarna maupun pengawet berbahaya dalam olahan terasi guna menjaga kepercayaan konsumen.
“Kami pastikan terasi hasil pengrajin tradisional asli Toboali tidak ada yang mengandung bahan-bahan berbahaya,” tegas Deka Indra.
Lebih jauh Deka Indra menyebut temuan BPOM kemungkinan besar berasal dari produk terasi yang bukan berasal dari Kabupaten Bangka Selatan.
Ia menduga produk tersebut masuk dari luar daerah dan dijual oleh pedagang yang bukan pengrajin lokal. Pasalnya, terdapat beberapa pedagang di Pasar Toboali yang ternyata menjual terasi dari luar daerah. Bahkan, sebagian di antaranya berasal dari luar Kabupaten Bangka Selatan.
Oleh karena itu, pedagang dilakukan pembinaan agar bersikap jujur kepada para konsumen. Setiap pedagang diwajibkan untuk memberi tahu konsumen tentang produk yang dijual. Dengan membeberkan terasi asli pengrajin lokal dan terasi asal luar daerah.
Seperti diketahui dari 20 sampel yang diperiksa BPOM, terdapat satu sampel yang terindikasi mengandung rhodamin B. Namun, sampel tersebut diduga berasal dari produk luar daerah, bukan dari pengrajin lokal.
“Kami pastikan, hasil temuan BPOM tersebut bukan terasi asli Toboali. Melainkan terasi asal luar daerah yang ingin merusak citra terasi khas Toboali,” ucapnya.
Sebagai tindak lanjut, DKUKMINDAG turut memberikan edukasi langsung kepada para pedagang agar tidak menjual produk yang membahayakan konsumen. Menariknya, saat dilakukan peninjauan lapangan, para pedagang justru menunjukkan sikap kooperatif dan antusias.
Banyak dari mereka secara sukarela meminta produk yang mereka jual untuk diuji. Pembinaan akan dilakukan secara lebih intensif, tidak hanya untuk produk terasi, tetapi juga terhadap potensi penggunaan bahan berbahaya lain seperti boraks.
“Karena pedagang merasa bertanggung jawab terhadap terasi yang dijual. Jangan sampai membahayakan masyarakat,” pungkas Deka Indra.
