Oleh: Yanto, S.Pd, I.M, S.Pd Gr — Guru dan Pemerhati Lingkungan

Tanya jujur: Kapan terakhir kali kamu merenungkan budaya luhur para pendahulu? Atau kapan terakhir kali kamu melihat sungai yang jernih di sekitar rumah? Banyak dari kita terlalu sibuk dengan urusan sehari-hari sampai lupa dua hal yang paling berharga: warisan budaya yang membuat kita siapa kita, dan lingkungan yang memberi kita nafas untuk hidup. Akhirnya, apa yang kita dapat? Budaya yang perlahan hilang, dan lingkungan yang makin kotor — bahkan jadi sumber masalah bagi kesehatan dan keamanan. Tapi jangan khawatir: ada cara sederhana tapi ampuh untuk mengubahnya: gotong royong rutin yang menyatukan semua kalangan.

Baca Juga  Diwo Sungai Nyire dan Legenda Tanah Gusong (2)

“Lupa Budaya” – Bukan hanya Lupa, tapi Hilangnya Jati Diri

Budaya luhur para pendahulu bukan cuma cerita di buku atau tarian yang hanya ditampilkan di acara besar. Dia adalah nilai-nilai yang mengajarkan kita gotong royong, rasa hormat, dan cara hidup yang seimbang dengan alam. Misalnya, di banyak daerah di Indonesia, ada tradisi mutiaram (membersihkan sungai bersama) atau ngaben yang tidak cuma upacara agama, tapi juga cara untuk merawat lingkungan dan mempererat hubungan antar warga.

Tapi sekarang, banyak anak muda bahkan tidak tahu arti dari tradisi itu. Mereka lebih suka mengikuti tren luar daripada mempelajari warisan sendiri. Ini bukan kesalahan mereka semata — kita semua yang kurang menjaga dan memperkenalkan budaya ini. Dan ketika kita lupa budaya, kita juga lupa prinsip-prinsip yang membuat kita hidup bersama dengan damai dan peduli pada alam.

Baca Juga  Pemerintah, TNI dan Polri Gotong-Royong Bangun Jalan Darurat di Desa Cupat

“Lingkungan Kotor” – Akibat dari Ketidakpedulian Bersama

Lihat sekelilingmu: saluran air yang macet sampah, jalan yang berdebu, sungai yang penuh limbah. Semua ini tidak muncul tiba-tiba — itu akibat dari tindakan kita yang tidak peduli sehari-hari. Kita buang sampah sembarangan, tidak membersihkan lingkungan, dan berpikir “sudah ada orang lain yang akan kerjakan”.

Hasilnya? Banjir yang sering datang, penyakit yang makin banyak, dan udara yang sulit dihirup. Bahkan, lingkungan yang kotor juga merusak warisan budaya — misalnya, candi atau tempat bersejarah yang diselimuti debu dan sampah. Ini seperti kita merusak dua hal berharga sekaligus dengan satu tindakan: ketidakpedulian.