Diwo Sungai Nyire dan Legenda Tanah Gusong (2)
Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara
Siapa melupakan janjinya..
Adalah manusia fasik dan mungkar…
Siapa melalaikan janjinya..
Adalah manusia sengsara yang matinya pun sukar..
Perangai buruk, hidup melarat, mati terbakar…
Begitulah kata-kata yang selalu Gusong ucapkan kepada para sahabatnya, agar jangan sesekali mendustakan apa yang sudah mereka janjikan.
Beberapa hari setelah kehilangan Bujang Nyire di Sungai Keramat, Gusong beserta sahabatnya memberikan nama sungai keramat itu menjadi Sungai Nyire. Penamaan itu untuk ia kenang sampai mati.
Keterlambatannya pada waktu itu, membuat Gusong menyesal seumur hidup. Sahabat baiknya Bujang Nyire harus hilang lenyap ditelan oleh sungai yang dikenal dengan keangkerannya.
Pada saat itulah Gusong bersumpah, disaksikan oleh langit malam ia bersumpah demi sahabatnya itu, ia akan membunuh buaya-buaya yang ditemuinya di mana pun ia berada.
Sumpah itu menjadi awal peperangan antara golongan manusia dan buaya bahkan yang menyerupai buaya sebagai siluman yang dikenal dengan panggilan DIWO.
Gusong adalah seorang pemuda berkulit hitam, ia juga sering dipanggil dengan panggilan Bujang Item.
Nama Gusong memiliki arti yakni tanah yang tumbuh di tengah laut.
Nama Gusong diberikan oleh keluarganya untuk mengenang tanah nenek moyangnya dari negeri yang jauh.
Keluarganya adalah pelayar yang ahli dalam bidang kelautan dan dikenal sebagai pelaut pemberani menghadapi badai dan gelombang di atas kapal.
Namun keberaniannya selama ini tak seperti kesejatian keluarganya.
Setelah kehilangan sahabatnya itulah keberaniannya muncul dan ia teruskan untuk melaksanakan sumpah serapahnya.
Pada suatu malam yang gelap gulita, Gusong terbangun dari tidurnya, seketika itu ia membuka pintu jendelanya, melihat langit yang masih hitam pekat dan kosong tanpa adanya bias cahaya, belum ada tanda-tanda matahari akan terbit.
Hikayat malam mengantarkan gairahnya untuk mengasah badik dan tombak perak di tepian rumahnya yang sangat dekat dengan laut. Hanya suara ombak yang menemaninya di tengah malam itu.
Di setiap malamnya, lagi-lagi ia tidak bisa tidur nyenyak. Ingatannya kepada Bujang Nyire membuat amarahnya tak terbendung hingga muncul dendam yang harus terbalaskan.
Alhasil di suatu hari ketika ia mendengar kabar dari orang-orang yang menceritakan keberadaan buaya, dengan cepat dan sigap ia langsung menjumpai tempat tersebut. Buaya-buaya yang ditemuinya mati mengenaskan terkena hujaman tombak dan badik yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Berhari-hari ia lalui, maka jumlah buaya pun banyak yang mati dan dikuliti dengan badiknya yang tajam sebagai senjata turun temurun dari keluarganya.
Sudah ratusan buaya yang ia bunuh, namun ia belum bertemu dengan buaya siluman yang ia nanti-nantikan selama ini.
Sampai di suatu harinya, di antara perbatasan laut dan muara tempat di mana banyak orang-orang membuat kapal-kapal besar, ada satu orang yang sedang membasuh badannya dengan air laut, dekat dengan bebatuan. Naas orang tersebut di mangsa oleh buaya yang sangat ganas, hingga diseret menuju laut.
Teriakan orang-orang di sekitarnya, membuat Gusong lekas mendatangi tempat itu, ia pun terkejut melihat ukuran buaya yang sangat besar dan menyeret orang yang sedang dimangsanya.
Teriakan orang itu, menggetarkan amarah Gusong yang semakin menjadi jadi.
“Tolongg.. Tolong Aku..!
Dengan sendirinya Gusong mengejar menggunakan sampan dan dayung, tak tertinggal badik dan tombaknya yang terus ia bawa.
Setelah dekat, dilemparkannya tombak dengan tepat mengarah langsung ke mata Buaya.
Orang itu pun terlepas dari mulut buaya dan masih hidup, namun malangnya ia sudah terluka parah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.