Melihat itu, Gusong segera menolong orang itu dan menaikkannya ke atas sampan.

Kondisi buaya dengan mata terhujam itu, membuat Gusong memberanikan diri untuk terjun sambil memegang badik di tangan kanannya dan bertarung dengan buaya.

Pertarungan itu disaksikan oleh satu orang yang berada di atas sampannya.

Sedangkan orang-orang yang berada di darat sibuk mencari kapal untuk menyusul Gusong yang sedang bertarung dengan buaya.

Pertarungan itu adalah pertarungan berdarah dan paling tersulit dari yang pernah ia rasakan selama ini.

Di sela pertarungannya, buaya itu akhirnya menampakan jati dirinya sebagai buaya siluman.

Buaya itu berbicara, sontak membuat Gusong terkejut.

“Wahai Gusong, ini aku yang engkau cari selama ini, tak ku sangka tombak perakmu berhasil melukaiku,” ucap buaya siluman (Diwo).

Mendengar itu, Gusong malah tertawa dan berkata, “Hahaha.. Akhirnya aku temukan dirimu wahai makhluk laknat, akan kubunuh engkau beserta golongan mu,” teriak Gusong.

“Tunggu dulu, aku tahu yang membuatmu ingin membalaskan dendam! Kejadian di sungai besarlah yang membuatmu menuntut seperti ini, perlu engkau ketahui bahwa sahabatmu itu sudah menjadi golongan kami, semua itu didasari oleh kemauannya sendiri,” ucap buaya siluman (Diwo).

Baca Juga  Bocah Kelas 5 SD di Toboali Meninggal Dunia! Diduga Jadi Korban Bullying di Sekolahnya

“Aku tidak percaya dengan ucapan mu itu, jangan membuatku semakin murka, kembalikan sahabatku,” jawab Gusong.

“Sudah terlambat wahai Gusong, jika manusia sudah memakan dan meminum hidangan di alam kami, maka ia sudah menjadi bagian dari kami! itu sudah menjadi pilihannya,” ujar buaya siluman (Diwo).

“Aku tetap tidak percaya… !” kata Gusong sambil menghujam badik ke badan buaya.

“Percuma, Badikmu tidak akan mampu melukaiku, hanya tombak perak mu ini lah yang mampu menembus kelemahan ku, aku peringatkan dirimu! bahwa sahabatmu sudah menyatu dengan alam kami! Jika engkau mau, akan aku hantarkan jasadnya yang masih utuh terjaga,” jawab Buaya Siluman (Diwo).

Mendengar ucapannya, Gusong berhenti menyerang buaya itu, sungguh ia tak kuasa mendengar perkataan seperti itu, sejenak ia terdiam dan kembali bertanya.

“Kenapa sahabatku rela memasuki alam kalian?” tanya Gusong.

Baca Juga  Simbiotik Pesisir: Urgensi Konservasi Lamun terhadap Populasi Dugong

“Kami mendengar, dan alam kami bergetar mendengar sumpahnya yang berjanji ingin menjaga gerbang alam kami dari mala petaka tangan manusia, itulah janjinya,” sebut buaya siluman (Diwo).

Gusong kembali tak kuasa mendengarkan hal itu, tetesan air matanya seolah menyudahi pertarungannya.

Ia hanya bisa berpasrah diri atas kehilangan sahabatnya.

Terakhir kalinya buaya itu berbicara, “Sudahi peperangan ini, sungguh yang engkau bunuh selama ini adalah hewan yang tak bersalah, kami lah yang menyerupainya. Akan tetapi, engkau sudah mendengar semua perkataanku, datangilah tempat di mana sahabatmu hilang, maka di situlah akan kami hantarkan jasadnya tepat dihadapan mu juga. Sungguh aku ke sini juga ingin membuat perjanjian dengan mu, bahwa kami akan melaknat anak keturunan kami berserta golongan kami untuk memangsa manusia dengan sengaja. Terkecuali atas apa yang menjadi ulah manusia itu sendiri. Jika golongan kami dengan sengaja memangsa manusia, maka kami bersedia untuk dihukum semestinya keinginan manusia atau kami sendiri yang akan menghukumnya semestinya yang berlaku dari golongan kami, janganlah engkau membunuh buaya yang tak bersalah, terkecuali buaya itu benar-benar mengancam akan kehidupanmu. Perjanjian ini akan berlaku kepada seluruh buaya yang ada”.

Baca Juga  Kolaborasi Program Gule Kabung dan Aik Bakung Berikan Pelayanan kepada Masyarakat, Begini kata Riza Herdavid

Mendengar itu, Gusong menyetujui perjanjian itu.

Pertarungan pun berakhir dan ia sampaikan kepada seluruh orang-orang yang berada di desa tempat tinggalnya.

Semua orang menghormati dan memegang perjanjian yang diucapkan antara Gusong dan Diwo.

Semua itu adalah untuk kebaikan bersama sebagai mahkluk hidup.

Keesokan harinya, Gusong bersama para sahabatnya mendatangi tempat di mana Bujang Nyire hilang dan tenggelam.

Benar adanya pada saat itu juga jasad Bujang Nyire dihantarkan oleh seekor buaya bermata satu yang kemarin ia hujamkan dengan tombak peraknya.

Bujang Nyire pun dimakamkan di pinggir sungai besar yang saat ini disebut dengan Sungai Nyire, makamnya bernisankan dua batang beringin, yang sampai saat ini tumbuh besar berdekatan.

Tamat.

Dwikki Ogi Dhaswara, Pamong Budaya Basel